Kamis, 13 Agustus 2020

Pelukan Guru

Hari yang bersemangat,pagi yang redup,matahari terselip di ufuk timur sedikit sekali terlihat senyumnya, seolah meringankan langkah kaki untuk laksanakan dhuha di masjid bersama– anak kelas XII. Seperti biasa merekapun sigap mengambil wudhu dan menunaikan dhuha sebelum KBM dimulai. Sesekali mereka berciprat saat wudhu sehingga berulang kali harus mengulang rukunnya. Kunikmati pemandangan itu, dan jarang aku ingatkan selama tidak memolorkan waktu sholat mereka. Akupun menikmati kebersamaan dengan mereka yang asyik, enerjik, gembira dan bersemangat. Entah karna kondisi badanku yang fit atau sebuah kebetulan saja. Ketika aku mengajar kelas MIPA 1 itu memang beda, pelajaran yang kusampaikan serasa nancap tepat sasaran, tidak ada siswa yang mengalihkan fokusku karna keramaian yang biasa dibuat oleh kelas lain. Hari ini tagihan hafalan bagi anak kelas dua belas, seperti biasa begitu aku datang, ku ucap salam dan ku ajak mereka tadarus bersama. Para siswa mengantre-kan bukunya untuk dinilai hafalan mereka.Setiap buku tulis siswa terselip kartu hafalan yang tertempel di sampul buku paling depan. Ada daftar 20 ayat pilihan tertulis disana. Wajah wajah siswa kutatap satu persatu, terlihat mereka mendumil dan gugup menghafalkan. Namun aku temukan juga wajah tidak sabar, mata bersinar, senyum optimis menunggu urutan namanya kupanggil. “Semangat pagi semua..., bismilah mudah –mudahan hari ini pertemuan kita bermanfaat “ Kalimatku memecah keriuhan lafal lafal yang mereka bacakan. Buku bersampul payung coklat, masih juga disampuli plastik bening itu kupungut pertama kali. Aku sudah hafal buku siapa itu, namun basa basi saja aku membaca namanya. “ bunga “ Anak gadis luwes itu maju dengan wajah tenang, dia kenakan seragam dan jilbab dengan rapi, jalannya yang khas agak tegap sedikit membusungkan dada. Mulailah dia melafalkan ayatnya,nilai sempurna selalu aku berikan. Lafal, tajwid, tulisan , terjemahnya lancar dan jelas. Ini bukan yang pertama kalinya. Sejak kelas sepuluh begitulah logatnya saat menghafal. Ini yang membuat hati kecilku bertanya , “anak seperti ini kok jadi bahasan guru dikantor ya?” Lima belas menit kemudian barulah teman –temannya menyusul hafal. Ini biasa kulihat, setiap akhir pembelajaran tak satupun siswa kelas tersebut yang gagal dalam penilaian hafalan ayat pilihan. Mereka mengujikan diri dan mendapat nilai. Selisih angka satu atau dua itu karena tajwidnya kurang tepat. Kalau bunga memang sudah paham tentang kaidah idzhar, iklab, idgham, dan ikhfa. Saat Ujian Semester tiba. Ujian mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung satu jam. Kalau sudah satu jam duduk mengawasi, biasanya aku merasa ngantuk . Kucoba bertahan , aku tak mau hal ini dimanfaatkan oleh siswaku yang curang. Hampir habis jam ujian, aku mengemas berita acara, presensi dan kususun lembar jawab berdasarkan nomor ujiannya. Semua siswa selesai , akupun keluar kelas dengan sedikit menggerakkan otot lengan dan kaki yang kaku karena terlalu lama duduk dikursi. Sepanjang perjalanan ke kantor, banyak siswa menyambutku ingin berjabat tangan. Bukanlah ngefans tapi mereka ingin tau jawaban yang benar pada soalku yang selesai ia kerjakan . Berbagai pertanyaan mereka lontarkan, “bagaimana hasilnya buk ?” tanya salah satu siswa. “ Semoga baik ya... kan belum koreksi “. Ada yang berteriak, “ Buk ayatnya sulit !” ... aku balas dengan senyum. Ada yang masih ngolak alik halaman buku, masih penasaran dengan jawaban . Ada yang cuek saja seperti tidak peduli mau dapat nilai berapa. Fokus mereka adalah pergi ke kantin. Di sudut lapangan basket, bunga girang menyambutku. Dia ujian dikelas sebelahku, sementara guru lain yang mengawasinya. “Hai nduk...” Dia menyaut tanganku dan menciumnya . “Nanti latihan tilawah buk ?” tanyanya dengan kalimat cepat . “ Iya dong”, jawabku lebih singkat. “ Ya,” begitupun jawabnya. “ Gimana Eva kamu tadi, bisa mengerjakan ? tanyaku bersemangat . “Insya Allah bu, Cuma ayatnya agak sedikit kelupaan”, begitu pengakuannya. Aku hanya senyum sambil mengangkat alis dan berlalu melanjutkan langkah ke ruang sekretariat. Sudah bersiap panitia UAS menanti keranjang Lembar jawabku yang ku dekap di atas perut. “Alhamdulillaah, “ sambil kuletakkan dimeja panitia. Waktu istirahat , kami ngobrol bersama para guru untuk melepas kepenatan. Tiba- tiba ada teman yang menyodorkan kepadaku papan ujian dari triplek warna abu –abu. “ Nih bu.... putrane njenengan ! Nyontek , ketangkap kulo “. Mak jeppp...., ini yang membuatku kaget. Nyontek itu kasus yang tidak aku sukai tiap kali siswa ujian. Terlebih siapa yang nyontek , itulah yang membuatku terheran heran. Ku terima papan ujian itu dari pak guru Penjaskes. Papan ujian itu warnanya abu abu, sama persis dengan warna pensil, kalau ditulisi pakai pensil hampir tak terlihat, tapi kalau dimiringkan papannya, maka tampak jelas apa yang ditulis. Ku periksa papan itu, banyak catatannya ada catatan ayat pilihan, ada catatan biologi, ada catatan TIK, dan bekas dihapus berulang kali hingga tulisan di papan itu hampir penuh.Aku makin penasaran siapa pemilik papan itu ?. Kutanya pada guru yang mengawasinya “bunga .. “ jawabnya sambil mengunyah makanan snack ngawas hari itu. Kupandang sekeliling, terlihat teman- teman guru ada yang meledak tertawanya , ada yang njebir bibirnya seolah sudah berulang kali melihat hal demikian. Kulihat teman-teman panitia tanpa respon karna sibuknya menyiapkan soal ujian berikutnya. Bunga, siswa yang bagus prestasinya dimataku, hari ini dia bunuh diri dengan contekan dipapan ujian itu. Ujian hari itu berlalu , aku masih tertegun dan menyesal. Bukan lebay, tapi aku seperti tertipu dan kecewa . Ba’da dzuhur , Bunga menemuiku dan meminta ijin bertemu . Ya, tentu aku mengijinkan karna kami ada kangsen untuk latihan tilawah MTQ hari ini. Raut mukanya sudah muram durja, begitupun dengan raut mukaku, mungkin sudah lebih sinis dari perasaanku. Bunga dihadapanku, air matanya mengalir deras, amat deras sampai tangisnya terdengar jelas. : “Hu hu hu....”(menangis keras ). “ Maafkan saya buk..., maafkan say buk,....., saya tidak bermaksud buk, saya tidak sengaja buk...” Begitulah Bunga merengek tak henti. Aku masih terdiam dan mengamatinya, tak tau kata apa yang pertama kali akan ku ucapkan. Aku lunglai, seperti kehilangan barang berharga.... dan aku tau barang berharga itu adalah kepercayaan dan kebanggaanku terhadap muridku ,bunga. “ Kenapa kok kamu berani mencontek? Kenapa kamu mengecewakan saya ? “ Kumulai dengan kata kata itu dan tangisnya makin menjadi. Matanya lebam tandanya hari itu banyak nangis. Kembali lagi aku mengutarakan kekecewaanku."Bunga, sebagian besar guru menilaimu negatif selama ini, ternyata bener ya. “ Padahal kamu itu selalu tak belo lho nduk,”. Setiap ujian lisan saja kamu maju pertama kali. Kamu selalu berhasil, tapi kenapa waktu ujian kamu mesti buat contekan?” “ Begini buk....malamnya saya tidak belajar. Lantas saya buat contekan karena saya takut gagal ”. Tangisnya sesekali mereda dan sesekali muncul lagi. Aku masih kebingungan, jikalau harus aku hukum kelakuannya ini aku takut membunuh semangatnya sebagai wakil sekolah dalam ajang lomba MTQ ,tapi kalau aku memaafkannya aku takut dia mengulanginya kembali. “ Begini Bunga, ibu percaya kamu menyesali perbuatanmu dan tidak akan mengulanginya .”, “ tapi ibu ingin menunda memberimu nilai , ibu ingin menenangkan diri ,memulihkan kepercayaan ibu dulu. Tapi ibu yakin dan percaya kamu akan memperbaiki diri . “Iya bu, saya berjanji” jawab anak itu dengan penuh yakin. Sejak peristiwa itu seperti ada tahi lalat di wajah Bunga setiap kali aku melihatnya. Biasanya aku bersemangat, jadi tidak. Apalagi ketika bertemu teman guru. Menurutku , aku ini guru yang tidak cermat mengamati siswa, aku tidak paham dengan karakter siswaku. aku salah menilai. “Ya Allah , beri aku kekuatanMu untuk bisa mendidik anak anakku menjadi karakter yang hebat”, desisku dalam hati. Mendekati hari Ujian Sekolah, biasa diadakan training motivasi di sekolah kami. Kelas XII di kumpulkan di sebuah ruangan kemudian kami menghadirkan trainer atau motivator. Hal ini dimaksudkan agar siswa siap mental menghadapi ujian . Aku menunggui kegiatan tersebut dan sesekali ikut terbawa ceria suasana game yang dibawakan trainer. Diakhir sesi ada renungan dan doa yang disampaikan motivator. Musik yang semula enerjik keras , menjadi instrumental nan lembut menghanyutkan perasaan. Kalimat kalimat penuh makna diuraikan oleh sang motivator. Siswa dimasukan pada nuansa kesedihan mengenang orang tua meraka yang lelah mencari nafkah, lelah membiayai sekolah anaknya, sampai pengandaian jika orang tua mereka telah berpulang. Mulai kudengar isak tangis seorang siswa putri , dua orang, dan kemudian disusul lainnya makin banyak jumlahnya. Siswa putra masih menunduk, mereka lebih kuat batin untuk cerita- cerita sedih. Tapi ada pula siswa putra yang sesegukan. “ Ah... tangisan buaya !” mulutku mencibir ingat kenakalan kenakalan mereka. “ Ra sembodo!” kalimatku dalam hati mengumpat. “ Huh..!” Aku meninggalkan ruangan itu hendak minum karna rasa haus yang begitu lama kutahan. Beberapa menit kemudian segerombolan anak mendatangi kantor, semuanya bermata lebam, berisak mengusap air mata. “ Minta maaf ya bu, kami banyak salah..., Minta doa ya buk, kami ingin lulus.” Kata- kata mereka terucap bergantian dan seolah berebut. “Oh... ini acarane suruh minta maaf sama gurunya to “, bisik salah satu guru di kantor. Akupun menyambut mereka dengan pelukan untuk siswa putri... mereka merangkul gurunya satu satu dan tersedu. Heh heh... kalau sudah begini luluh lantak hati sang guru. Seolah lenyap semua subyektifitas. Lenyap rasa pernah marah dan pernah jengkel , melebur dalam maaf dan doa restu yang tulus untuk mereka. Begitupun Bunga begitu erat dan kerasnya memelukku...., dan akupun dengan mata berkaca menyambutnya. “Maafkan ibu nak , kesalahanmu yang sedikit membuatku lupa bahwa kau pernah menjadi juara di hati ibu dan kau pernah mengharumkan nama sekolah dengan tilawahmu, sukses selalu nak doa ibumu ini menyertai”. bisikku menyambut isak tangisnya. Bunga mengangguk dan mengeraskan tangisnya. ------------- Untuk memenangkan sebuah kompetisi , banyak orang melakukan berbagai cara. Bahkan mungkin kebiasaan ini telah diajarkan oleh orang tua mereka sejak kecil. Sehingga anak menjadi terbiasa ingin menang dengan segala cara, termasuk mencontek untuk mendapatkan nilai bagus. Jumlah anak mencontek mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, bukan hanya dilakukan oleh anak yang biasa- biasa saja tetapi juga dilakukan oleh anak yang cerdas dan aktif dalam kegiatan sekolahnya , seperti salah satua anak yang penulis ceritakan. Selayaknya anak anak sejak usia dini selalu dibiasakan untuk bersikap jujur, berani dan bertanggunh jawab. Untuk mencapai keberhasilan diperlukan proses tidak dengan cara instan. Maka sebagai guru , mengajar pendidikan karakter itu lebih menantang ketimbang sekedar mengajar anak anak agar lulus ujian. Murid memiliki karakter bawaan, tugas guru adalah mengarahkan kepada karakter positif tentunya. Namun dalam perjalanan itu tentu ada saja murid yang menjengkelkan, berbuat kesalahan, berkata tidak tepat, dan lain-lain. Guru yang pemaaf begitu penting. Murid yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan perlu dibimbing dengan benar. Dalam batas wajar, guru perlu menyiapkan ruang maaf seluas-luasnya bagi murid diiringi nasihat untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun guru pemaaf bukan berarti tidak memberi sanksi dan memaafkan begitu saja setiap pelanggaran. Ada pelanggaran, maka sanksi ditagakkan, tetapi sebagai guru berbicara secara personal bahwa ia memaafkan muridnya. Hal ini agar murid sadar bahwa ia mendapat sanksi karena melakukan kesalahan. Kalau murid tidak menyadarai kesalahannya, maka sanksi tidak terlalu berguna dalam merubah sikapnya.

4 Komentar:

Pada 13 Agustus 2020 pukul 22.58 , Blogger nini belajar mengatakan...

Guru yg bijak. Keren bu👍

 
Pada 14 Agustus 2020 pukul 01.09 , Blogger 83-arisusana-blogspot.com mengatakan...

Makasih Bun. Masih banyak belajar nih....

 
Pada 14 Agustus 2020 pukul 03.11 , Blogger Sumarjiyati mengatakan...

Manteb te.. Lanjutkan.. Menulislah setiap hari dan buktikan yang kan terjadi

 
Pada 14 Agustus 2020 pukul 03.12 , Blogger Sumarjiyati mengatakan...

Manteb te.. Lanjutkan.. Menulislah setiap hari dan buktikan yang kan terjadi

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda