Nek Udan Terno Sekolah
Semalam aku mimpi mau jadi manten. Firasat apa ini?
Mak byar...istighfar berulang kali. Semoga semua baik baik saja.
Aku langsung meminta suamiku untuk menghubungi paman yang ada di RS. Bagaimana kondisi Simbah buyut Kakung. Suami segera sholat subuh dan mencari nomor tujuan.
Simbah kritis katanya.
Layar hape selalu online. Memanjat doa semoga ada keajaiban .
Memang sudah lama Simbah gerah. Sepertinya gula basah, walaupun dokter belum memastikan.
Tiga hari ini Simbah tidak bisa menelan makanan. Luka di di kaki juga tidak kunjung sembuh.
Kemarin sore suami membawanya ke RS. Pelita Husada, namun piha rumah sakit curiga, jangan jangan covid. Maka Simbah dirujuk ke RSUD Wonosari. Untuk menjalani test rapid, keluarga dimintai tanda tangan.
Dilema, diiyakan atau ditolak. Karna semua menginginkan Simbah segera dirawat intensif, maka di iyakan.
Siapa yang akan bertanggung jawab jika iya... Kata pihak RSUD.
Jam 8 Simbah semakin memburuk.
Dari luar kaca seperti sudah tak bernafas. Perawat segera tiba, memeriksa dan memberi berita duka itu.
Innalillaahi wa Inna ilaihi rooji'uun.
Semua tak berdaya melihat,dari luar jendela kaca.
Apalagi paman yang ada diruangan sendirian. Pastilah butuh kekuatan untuk melawan ketakutan dan kesedihan.
Simbah berpulang dalam status menunggu hasil test. Walaupun hasil belum dipastikan covid,tapi pemakaman harus dengan cara korban covid.
Itulah yang menyayat hati kami dan keluarga.
Kami ingin dekat sama Simbah, ingin merawat Simbah untuk yan terakhir kali. Kami ingin menyolatkan Simbah bersama seluruh anak cucunya, tapi tak bisa.
Dua jam menunggu pengurusan Simbah di RSUD. Pada saat dimandikan, keluarga dipanggil agar bisa masuk ke ruang jenazah, di ijinkan melihat.... Yaa melihat saja tubuh Simbah yang lemah itu dimandikan petugas berseragam APD.Prosea memandikan sama dengan jenazah non covid, semua rukun terpenuhi sampai diwudhukan. Suami akan mengambil foto, di ijinkan oleh petugas, tapi kemudian suami berubah pikiran. Tidak sampai hati melihat raga Simbah, apalagi sampai menunjukan fotonya ke keluarga dirumah. Cara mengkafaninya juga sama dengan jenazah non covid. Hanya sebelum lembar terakhir, harus dilapisi plastik dulu, baru kemudian dibalut kafan terakhir.
Jenazah dimasukkan peti, dimiringkan dan diganjal pakai "gelu" kemudian menunjukkan kepada keluarga kalau tali tali kafannya sudah dibuka sebelum peti dirapatkan.
Selesai. Sekalipun tidak bisa turun tangan dalam merawat Simbah, tetapi kami lega, bisa melihat perawatan Simbah yang begitu baik.
Kebetulan juga kami dibolehkan untuk ikut menyolatkan di lokasi pengkafanan tadi. Stelah itu jenazah Simbah dibawa ambulance menuju Makam dikampung kami. Tidak boleh dibawa pulang ke rumah.
Anak cucu menyambut dengan Isak tangis, beberapa berwudhu untuk bisa menyolatkan Simbah walaupun hanya di dekat mobil ambulance.
Tak kuasa melihat peti yang terbungkus plastik itu digotong menuju liang lahat. Simbah akan beristirahat dengan tenang dan damai. Semoga Allah mengampuni dosa dosa Simbah, dan menerima doa keluarganya.
Aku hanya ingat piweling Simbah sama suamiku.
Kalau hujan, antarlah istrimu ke sekolah.
Insya Allah Mbah, piweling ini akan membuat kita ingat terus. Apalagi kalau cuaca mendung,gerimis,hujan lebat, aku pasti diantar.
Ahad, 6 Desember 2020
# dalam kenangan#

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda