Selasa, 18 Agustus 2020

Kisahku bersama bapak

Malam itu bapak masih diluar.
Ini sudah larut, masih saja terdengar suara letusan jagung goreng itu dikunyah sama bapak. Aku kembali menggulung diri dalam selimut tebal sambil keheranan kenapa bapak tidak bisa tidur. Mungkin karna memikirkan bapak,sampai- sampai terbawa mimpi. Dalam mimpi itu bapak menyuruhku memanjat tas pakaiannya . " Ayo naik!" Kata bapak. Aku mendongak keatas. Di depanku tampak tebing batu yang tinggi , seperti dipinggir sungai letaknya. Kami menyebut tebing itu " pereng".  Aku kesulitan menaiki tebing itu, tapi tetap saja bapak menyuruhku menaiki batu batu , kadang ranting kering harus aku injak untuk sampai ke atas. Terakhir diujung panjatan ada bunga Kamboja yang besar, aku menoleh kearah bapak yang ikut memanjat bersamaku. "Ayo cepet, panjat pohon itu ". Akhirnya sampailah aku dan bapak diatas tebing. Hamparan sawah nan hijau menyambutku. Sekeliling sawah ada pohon pisang tumbuh subur. Indah sekali terlihat." Ikutlah dia! " , Bapakku memerintah sambil menunjuk ke arah seseorang. Ada seorang laki laki memakai sarung berada di sekitaran sawah hijau itu. Ternyata dia adalah bapak mertuaku. " Pak !", Kok ada tempat sebagus ini disini". Aku kegirangan melihat mertuaku. Tapi beliau menunjukan wajah tidak suka melihat aku menghampirinya. " Disini ngga ada air kok nok". Orang tuaku beserta mertuaku  biasanya memanggilku " sinok ". Seketika aku berubah pikiran. " Oh, tidak ada air, brati aku mbalik saja. Aku mau turun lagi". Aku kembali menghampiri bapakku yang menunggu. Pagi hari saat kami berkumpul untuk minum teh, bapak masih saja lantang menceritakan keberadaannya diluar semalaman karna tak bisa tidur. Hari berikutnya , bapak ingin pergi mencari penghasilan ke Jogja. Sudah sejak aku kecil bapak berjualan bakso di pasar Kolombo, Jalan Kaliurang. 
Hasilnya lumayan, terbukti bisa membelikan aku sebuah motor v80 warna merah, dan menamatkan aku sebagai sarjana .
Sekolah tak harus yang mahal, yang penting bisa jadi guru, itu cita cita bapak. Besok kalau sudah jadi guru, bapak belikan motor seken, yang  warna hitam. Begitu jelek cita cita bapak.Motornya cuma seken, yang penting warna hitam artinya lebih bagus dari v 80 itu . Yang penting jadi guru,tidak digaji tidak apa apa, nanti bapak yang cari uang. Begitulah kekudangan bapak sejak aku kecil. Tapi ternyata cita cita bapak dikabulkan oleh Allah SWT. Aku sudah jadi guru PNS, dan sudah naik motor hitam. Bapak sudah bahagia dan tenang sekarang, karna aku sudah jadi guru dan sudah berpenghasilan. 
Tepatnya malem satu Muharram, bapak pulang, tapi pergi lagi. Orang melihat kepergiannya dengan tangis, sementara aku tidak. Aku berpikir, bapak akan pergi sebentar dan kami akan menyusulnya. Jadi aku hanya berpasrah pada yang kuasa, kami akan cepat dipertemukan dengan bapak. Tiga hari kemudian bapak datang.  Aku tanya " bapak kemana?"
Bapak tersenyum sapai kelihatan giginya " tidak kemana mana, bapak disini." Bapak duduk di kursi dapur, sembari menunggui aku menangis . Walaupun aku menangis bapak tetap pergi lagi. Hari ke 7 ,bapak datang lagi. Dia ingin mengajakku ke sebuah rumah sakit. Sampai dirumah sakit, aku melihat dokter dan suster melintas di depanku....,aku berlari menghampiri mereka." Dok,bapak saya sakit apa?", Dokter dan perawat itu tidak menjawab. Hanya melihat bapak ku seperti tidak kenal. 

Hari ke 40 , bapak datang lagi. Dia ingin mengajakku jalan jalan. Aku dibawanya kesebuah tempat wisata, banyak kuda kuda tunggang disana. 
Bapak menyuruhku menaiki salah satu kuda, aku menolaknya. Kalau aku naik kuda, bapak pasti akan pergi meninggalkanku lagi. Tapi bapak tetap mamaksaku. Dan benar, setelah aku naik kuda, bapak menghilang. Kepergian bapak kali ini agak lama. Sampai aku merindu. Membiayai adik sekolah SMA,aku juga merasa agak kuwalahan. Ternyata kalau bapak tidak ada, begitu berat hidup ini. Belum lagi, atap bocor dikala hujan juga membuat risau. Biasanya bapak yang perbaiki. Kamar kamar yang bersekat triplek mulai lusuh dan keropos. "Bapak, pulang lah, buatkan aku kamar dari tembok". Bapak seorang tukang bakso, tapi juga bisa jadi tukang kayu dan tukang bangunan.
Setahun kemudian bapak datang lagi, aku duduk didepannya seperti seorang lumpuh. Aku ingin mengadu sama bapak. Bapak menyuruhku berdiri, tapi aku menggeleng sambil menangis. Aku tidak bisa, jalan di depanku sangat terjal. Kekuatanku serasa sudah habis. Tapi bapak menarikku berdiri. Dia menyuruh kakiku naik diatas kedua kakinya. Aku dititah seperti anak yang belum bisa jalan. Hari berikutnya dia buatkan aku jembatan dari cuil cuilan kayu. Dia menata kayu kayu itu, tangannya melambai seolah menyuruhku lewat jembatan itu. Aku mencoba bangkit, bapakpun tersenyum lega.
Bapak lama tidak pulang lagi. Biarlah, aku sudah mulai mengerti. Setelah 3 tahun, aku bertemu bapak lagi. Bapak memakai jaket kulit warna hitam kesayangannya. Sepatu yang dia kenakan sangat aku kenal. 
" Kemana adek?" tanya bapak.
Aku menyingsingkan rok panjang yang ku kenakan, bermaksud ingin bergegas mencari adik .
Tapi bapak tak punya waktu lama. Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangan. Bapak tersenyum seperti sudah tidak punya beban lagi. Aku meraungpun tetap tidak dihiraukan. Sampai aku terbangun dan percaya kalau bapak pergi untuk selama lamanya.

Ari Susana
Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Senang menulis buku harian dan bersama pegiat literasi menulis buku antologi. Buku antologi yang pernah ia ikuti adalah Berbagi Kisah Memetik Hikmah, Surat Untuk Ibu, Simpang Maya, Untukku, Oktober Bermakna dan Secret Box. Sebagai seorang guru dia ingin menularkan hobinya menulis kepada siswa siswanya. 


5 Komentar:

Pada 19 Agustus 2020 pukul 03.04 , Blogger Sumarjiyati mengatakan...

Smg beliau tng dsana te..d tmptkn dekat orang2 solih

 
Pada 19 Agustus 2020 pukul 03.04 , Blogger Sumarjiyati mengatakan...

Smg beliau tng dsana te..d tmptkn dekat orang2 solih

 
Pada 19 Agustus 2020 pukul 03.04 , Blogger Sumarjiyati mengatakan...

Smg beliau tng dsana te..d tmptkn dekat orang2 solih

 
Pada 19 Agustus 2020 pukul 03.04 , Blogger Sumarjiyati mengatakan...

Smg beliau tng dsana te..d tmptkn dekat orang2 solih

 
Pada 9 September 2020 pukul 20.05 , Blogger 83-arisusana-blogspot.com mengatakan...

Aamiin yra. Lahul faatihah...
Ya Rabb, jika bapak mengerti cucu- cucunya sekarang, pasti sudah dibuatkan mobil dari kayu, seperti aku kecil dulu. Aku naik dan bapak mendorong dari belakang.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda