Shalatnya batal
Hari ini saya shalat isya dobel alias 2x. Jamaah dimasjid bagi wanita memang tidak dilarang, makanya saya selalu berusaha untuk datang. Masjid adalah afdhalul makan, atau tempat paling afdhal untuk sholat. Shalat dobel bukan karena lupa atau karna ada rumus pahala banyak. Tapi karna shalat saya tidak khusyu'. Saya emosi dan geram saat mendengar berisik di barisan saf depan saya. Barisan anak anak SD sebanyak empat orang. Mereka sudah kelas enam,bahkan satunya sudah SMP. Saya ingat, mereka sudah sunat semua. Saya terpancing untuk ngelirik ke depan, apa yang menyebabkan keberisikan tersebut. Ketika pandangan saya kedepan, saya melihat anak anak SD tersebut sumber keramaian. Saat teman mereka takbir dengan kaki enjat enjut, maka tiga bocah lainnya menirukan. Saat satunya batuk, ketiganya ikut batuk. Saat satu garuk-garuk, yang lainnya garuk garuk, hampir seluruh rekaat dihabiskan untuk menirukan gerakan temannya. Tidak ada sarung yang bisa berhenti bergerak selama sholat. Saya sadar, ternyata rekaat saya juga habis tanpa kekhusyukan.
Setelah shalat selesai, tak sampai hati saya untuk menegur mereka. Saya khawatir mereka akan kapok shalat di masjid gara gara saya grenengi atau saya marahi. Saya hanya heran, apa orang tuanya tidak tau, atau apa guru di SD tidak pernah ngajak shalat, atau saya sebagai tetangganya yang tidak ikut campur dalam pelajaran fiqih shalat. Betapa sia sia waktu mereka. Shalat hanya sebatas hadir di Masjid tanpa mengetahui makna shalat.
Raganya shalat, tapi jiwanya tidak menganggap Tuhan hadir di depannya.
Saya malah merasa tambah dosa dengan bisikan emosi saya sepulang perjalanan dari masjid.
Akhirnya saya mengulang shalat isya lagi, karna shalat jamaah saya tadi sebenarnya sudah batal.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda