Minggu, 25 Agustus 2024

Ditabrak Jin Laboratorium

“Ibu... aku tak mau ikut acara ini” “ Loh kenapa?” “ Takut buk...!” Seorang siswa menemuiku dengan tangan berkeringat dingin dan gemetar. Di pelupuk mata sudah terlihat berkaca- kaca. Kalau sudah begini, aku mulai curiga. Dia sudah menangkap kekuatan negatif yang bereaksi dari badannya. Sebagai guru baru, ini kedua kalinya aku mendampingi siswa dalam kegiatan pesantren kilat. Di tahun pertama, malam doa dan ruqyah memang membuatku harus bersiap , mental dan fisik. Malam yang dingin, di lantai musola sekolah. Sudah beralas tikar, namun karna masjid berada di dekat sawah penduduk, maka dingin tetap merasuk dibadan. Jeritan siswa putri, menambah malam makin mencekam. Sinta, Novia, Reni adalah siswa yang sering kesurupan di sekolah. Hampir setiap hari, dan jam yang sama mereka menjerit histeris. Kegiatan belajar mengajar terganggu dan tersita untuk menangani siswa seperti ini. Sebagai guru Agama, aku harus selalu berada disamping siswa tersebut. Ini tak biasa. Aku tak punya kemampuan supranatural atau doa –doa mujarab untuk mengusir roh halus. Jika terjadi kesurupan, kami dan para guru hanya berusaha menyadarkannya dan membawanya ke puskesmas. Pada malam ruqyah itu, aku hanya ikuti saja apa perintah ustadz pemberi materi. Kegiatan itu sampai larut malam , bahkan sampai dini hari. Siswa benar benar dibersihkan dari hal – hal negatif dari dalam dirinya, baru kemudian kegiatan berakhir dan mereka di ijinkan tidur. Pada acara yang sama di tahun kedua ini aku juga bersiap untuk mendampingi kegiatan tersebut sampai selesai. Sebelum kegiatan mulai, banyak anak terutama siswa putri yang tidak mau mengikuti. Aku mencoba menenangkan mereka dan mengatakan bahwa kegiatan tersebut hanya doa , tidak akan terjadi apa- apa. Pemateri sudah datang, acara dibuka dengan perkenalan santai, menuju nasihat- nasihat dan diakhiri dengan pembacaan ayat- ayat. Ditengah lantunan ayat, ada siswa yang menangis. Awal reaksi seperti ini sebagai pertanda , anak bermasalah. Tangisnya reda, namun begitu aku tengok kembali dia pingsan. Aku tekan syaraf- syaraf kejut seperti yang biasa aku lakukan di kelas. Ruas jari jempol dan jari telunjuk, belakang telinga , atau jempol kaki aku tekan kuat –kuat. Biasanya ini membantu dia untuk bangun siuman. Aku sudah menekan beberapa titik kejut tapi tidak ada reaksi. Aku berikan minyak kayu putih diujung hidungnya, namun tetap tidak bergerak. Aku panggil namanya berulang kali , tapi tidak ada respon sama sekali. Siswa tersebut segera dihadapkan pada ustadz, dan diberi doa- doa pengusir jin . “ Siapa yang pingsan itu ?” aku berbisik pada salah seorang peserta. “ Sisri bu, yang sering pingsan saat pelajaran”. Jawab seorang anak. Setelah dibacakan ayat oleh ustadz , anak itu sadarkan diri. Kegiatan doa berakhir dengan lancar dan tidak menguras tenaga seperti tahun lalu. Aku menghela nafas lega , penuh syukur. Jadwal istirahat anak tidak mundur . Pagi hari setelah salat subuh peserta boleh berkemas , dan menanti apel penutupan kegiatan pesantren kilat. Ada yang harus ku ketahui tentang Sri, siswaku yang sering pingsan di kelas. Apa penyebabnya, dan mampukah aku terlibat dalam hidupnya untuk memberi solusi. *** Pagi yang cerah, awal pmbelajaran yang baik karna aku sudah siapkan berbagai materi menarik dan game yang menantang untuk para siswa. Masuk ke dalam kelas dan hendak memberi salam. Aku harus menaruh buku presensi dan bahan ajar. “ Bu, jangan duduk!” Ada orang dikursi...” perintah Sri lirih kepadaku. Gadis yang duduk di meja paling depan berhadapan dengan meja guru. Sepontan aku merinding. Ingin berlari tapi aku tahan. Aku harus berusaha tenang , karna jika aku lari apa yang akan terjadi dengan seluruh siswa di kelas itu. Badanku gemetaran ketakutan, namun tetap kusembunyikan. “Bismillaaah, A’u dzubillaah.... hi..mi..nasy..syaitoonirrajiim... laa haula walaaquwwata illa billaaah. “ Bisikku dengan komat kamit gemetaran. “Sri, bisa kau suruh dia pergi...” , aku mendekat pada Sri dan merangkul bahunya sambil membungkuk, supaya dialog kami tidak didengar banyak siswa. “ iya.., sudah bu. Sudah tidak ada.” Huuufh, aku melonngarkan nafas. Aku duduk dan membaca ayat kursi, kemudian mengucap salam dengan sikap terpaksa tenang. Hampir seluruh siswa tidak paham dengan kejadian yang kualami bersama Sri, namun beberapa orang mengerti. Pembelajaran mulai, kian aktif dan asyik. Banyak siswa yang merespon pertanyaanku, menyampaiakan pendapatnya, tertawa dan bertepuk tangan. Aku memandang Sri, tanpa reaksi gerakan ataupun berkedip mata, begitu tajam menatapku. Wajahnya senyum, tapi senyumnya menakutkan seperti tokoh film horor yang bernama Susana.Sepertinya pikirannya diluar materi pelajaran. Batinku tak henti mengucap ta’awudz , Surah An- Nas , dan Al Falaq. Dua jam pembelajaran telah selesai. Aku mengakhirinya dengan motivasi dan salam. Sesekali aku masih melirik Sri yang menunduk. “Sri, ibu mau bertemu denganmu nanti pada saat istirahat ya..!”, pintaku dengan lembut. Sri mengangguk saja. Tidak menjawab sepatah katapun. Aku keluar kelas dengan dada penuh cerita. Cerita Sri dan makhluk halus yang ikut pelajaran hari ini. *** Waktu istirahat , terlihat Sri datang berdiri ditengah pintu kantor guru. Pandangannya menyebar mencari wajahku. Aku sudah terlebih dahulu melihatnya. Aku membawa Sri ke Ruang UKS yang kosong. Kebetulan ruangannya bersebelahan dengan kantor Guru. “ Sri, sehat kau nak ?” “ iya bu,” “Ibu mau tanya, kau bisa melihat jin ? “ iya bu, itu temannya kakak saya. “ Kalau saya ke Sekolah, kadang ngikut” terang Sri sambil tersenyum. “Kamu kenal jinnya ?” “ Iya bu, kadang dia juga bantu saya, tapi jin yang disekolah itu sering ganggu saya bu.” “Ceritakan Sri, jin yang di sekolah itu seperti apa ?” pintaku pada Sri berharap banyak informasi darinya. “ Ada yang rambutnya panjang dan matanya melotot, ada yang cuma kaki menggantung , biasanya dikamar mandi, ada juga yang seperti anak kecil berlarian di depan kelas, ada juga yang badannya besar.” Cerita Sri sangat detail tentang rupa-rupa jin. “ Kamu sering pingsan kenapa ?” “ Karna saya lihat dan ditabraknya lalu saya pingsan bu .” Cerita Sri membuatku semakin aneh dan merinding. “Sri, dengarkan ibu..”, Aku memandangnya dengan tajam agar dia fokus pada kalimatku. “Kamu sakit. Kamu harus sembuh.” Mampu melihat Jin itu suatu kelebihan juga, tapi sekiranya mengganggu aktivitas , maka harus ditutup saja. “ Makhluk Allah banyak macamnya, tapi yang paling sempurna diantara ciptaanNya adalah manusia. Jika kita berteman dengan jin, maka level kita sudah menurun. “ Bener gak Sri ?” tanyaku meminta persetujuan. Lagi- lagi Sri hanya tersenyum. Entah apa yang dipikirkan Sri. “Apakah kedua orang tuamu masih ada ?” “Iya, masih bu. Hanya saja ayah saya sakit. Sejak ada orang datang kerumah untuk menagih hutang, ayah saya langsung sakit. “ “Apa karna kebanyakan pikiran ya ?” , tanyaku penuh selidik. “Tidak juga bu, tapi wajah ayah saya diludahi orang tersebut , dan setelahnya dia tidak bisa bicara.” Cerita Sri sangat pilu, hingga air matanya mulai keluar. “Saya pernah kepikiran bunuh diri buk, karna saya pikir saya menambah beban ibu. “ “ Aduh,..kenapa sempit sekali pikiranmu ?”, tanyaku meninggi. “Bunuh diri itu dosa nak !” terangku kepada Sri. Bel masuk berbunyi, Sri segera berpamitan dan kembali ke kelas. Setelah kejadian itu, Sri masih saja pingsan di kelas. Saat pelajaran biologi, kimia, fisika dia memutus fokus guru saat menerangkan. Kejadian tersebut menbuat guru mengeluh, dan hendak masarh kepada Sri. Aku merasa kasihan pada Sri. Dia sangat terbebani psikisnya. Wajar saja kalau banyak jin menghantui pikiran kosongnya. Aku mulai mencari jalan untuk Sri. Siapa tau aku bisa mengurangi kesedihannya dan bisa membangkitkan semangatnya. “ Kamu mau sembuh kan Sri ?” tanyaku tegas pada Sri di UKS siang ini. “ Iya buk , tapi bagaimana caranya ?” Jawab Sri membuka peluangku untuk lebih dekat padanya. “ Begini nak, ibu ini ibumu di sekolah . Jangan ragu untuk bercerita . Mulai sekarang, kau harus berusaha “. Jangan pingsan, jika kamu melihat jin lagi.” “ Lha saya ditabrak bu, ??” kata Sri membela diri. “ Cobalah mendahului dia. Tabrak saja !”. Aku seperti pawang jin saja. Apakah caraku ini nanti manjur dan berhasil melepaskan Sri dari pengaruh jin. Ah, yang penting sudah mencoba dan berusaha. “ Iya... “, Sri mengangguk. Kelihatan optimis. “ Oke , kamu boleh kembali ke kelas. Setelah saran ibu kau praktikan, temui ibu kembali yaa..!” “ Gih buk “, Sri mencium tanganku dan keluar dari UKS itu. *** Sepanjang perjalanan pulang, aku dihantui persoalan Sri . Apa yang harus aku lakukan agar kejadian kesurupan tidak terjadi di sekolah. Aku harus banyak minta petunjuk dalam salat malamku. Hanya Allah sajalah yang mampu memberi pertolongan kepadaku. Aku sebagai guru agama , terpaksa terlibat dalam menyembuhkan siswa yang kerasukan jin. Mengenal Sri aku artikan sebagai anugrah dan tantangan. Sebagai anugrah karena dia mau dekat dan mendengarkanku sebagai gurunya. Tantangannya adalah apakah aku mampu sembuhkan Sri dengan kekuatan nasihat dan sugesti. Ada keyakinan juga bahwa sakitnya Sri hanyalah karna kurang perhatian dan kasih sayang. *** Hari berganti, sudah seminggu Sri tidak kesurupan. Dia menemuiku dengan wajah lebih segar dari biasanya. Hatiku tergelitik dengan rasa penasaran. “ Bagaimana nak?”, kau lihat jin lagi ? “ iya bu, di depan lab IPA”,sesuai perintah ibu, saya lari menabraknya. Dia menghilang dan saya tidak pingsan.” “ Nah begitu!, jangan mau kalah sama jin!” Aku luapkan kata itu di depan Sri. Sri tersenyum lebih lebar. Dia kupeluk dan kuusap –usap kepalanya. “ Kamu cantik sekali nak”, aku menatap matanya yang bahagia saat mendengar kalimatku barusan. *** Tibalah acara rutin kemah bakti sekolah. Sebagai agenda rutin dan kegiatan wajib, maka setiap siswa harus ikut dalam kegiatan tersebut. Keberuntungan tidak berpihak pada Sri. Salah satu penanggung jawab kemah sudah meng-ultimatum bahwa Sisri tidak akan diikutkan di kemah bhakti. Kondisi Sri yang sering kesurupan pada kegiatan pramuka, membuat jengkel pembina dan menganggap Sri akan merepotkan saat di bumi perkemahan. Desas desus itu aku dengar dari diskusi para guru dan pembina, namun aku tidak berani menyela atau berpendapat untuk mengikutkan Sri. Aku ingin menemui Sri terlebih dahulu. “ Sri , kamu mau ikut kemah bhakti ?” “ Ya buk, “ “ Nggak boleh, nanti kamu kesurupan !”, agak keras tapi sambil tersenyum. “ Kan sudah nggak lagi buk ,?” “ Yakin?”, tapi pembina sudah memutuskan kamu tidak akan di ikutkan, bab nanti kamu akan merepotkan kata beliau. “ “ Ibuk, aku mau ikut buk...” Sri merengek kepadaku. “ Apa kau jamin kau akan baik- baik saja ?’ “ Iya buk, saya berjanji !” Ucapan Sri membuatku yakin, kesembuhan itu karna kemauan yang kuat. Aku menemui pembina sekaligus penanggungjawab kemah bhakti. Dengan diskusi yang agak alot, aku berhasil meyakinkan beliau, bahwa Sri tidak akan merepotkan panitia di lokasi perkemahan. Berangkatlah Sri ke Bumi Perkemahan bersama teman – teman seangkatannya. Perasaanku tidak sabar menunggu rombongan kemah bhakti pulang. Aku akan segera menemui pembina pramuka dan akan menanyakan keadaan Sri saat mengikuti kemah. Tak lupa aku terus berdoa. Benar – benar aku meminta pertolongan pada Allah. Hanya Dia Penolong dan Kuasa atas segala sesuatu. “ Halo kakak pembina, sudah selesai kegiatan kemahnya ? Bagaimana kabar anakku Sisri ? Dengan santai aku menemui teman guru yang kebetulan sebagai pembina pramuka yang baru pulang dari kemah bakti. “ Haloo, Sisri baik, ceria kok. Tidak rewel !” kata beliau tenang. “ Baiklah, alhamdulillaah, trima kasih informasinya ya kak...” nadaku melantun karna kami sudah akrap. Aku lega mendengar kabar itu, dan tidak sabar untuk melihat wajah Sri yang ceria. Hari berikutnya Sri kembali menemuiku. Wajahnya berseri-seri dan bersemangat. “Ada apa nak ?” “ Ibu , saya bermimpi.” Aku menggernyitkan jidat, sambil memilih tempat untuk duduk dan mendengar baik- baik ceritanya Sri. Hal baru apa yang akan kutemui hari ini. Kelihatannya aku diminta tafsir mimpi. “ Mimpi apa nak ?” dengan tatapan yakin dan senyum bersemangat. “ Saya mimpi bertemu ibuk. Ibuk membawakan saya baskom berisi air. Dan meminta saya mencuci tangan.” Sri menjelaskan mimpinya. “Apa artinya buk ?” tanya Sri dengan penasaran. Nah , ternyata benar dugaanku. Dalam waktu singkat aku harus menterjemahkan mimpi Sri . Tanpa berpikir panjang aku meng-eksekusi mimpi tersebut dengan penuh keyakinan. “ Alhamdulillaah..., subhanallah...., Allah memberimu jalan untuk sembuh nak, kamu akan sembuh.” Kalimatku tak bisa tertahan. Tanpa sadar, mataku berkaca. Aku seperti mendapat jawaban dari Allah atas kegelisahanku selama ini. Siapa yang berhak membenarkan mimpi itu selain keyakinan dalam hatiku sendiri. Aku memeluk Sri dengan erat dan dia begitu hangat menyambutnya. Matanya menatapku manja. Kami sama sama bertemu dalam satu hubungan guru dan murid yang hangat. Satu sama lain merasa sangat dihargai dan merasa dipuncak keberhasilan. Setelah kejadian itu, Sri berubah menjadi sosok gadis yang ceria. Dia banyak bergaul dan bercanda dengan teman teman seusianya, tidak seperti dulu menyendiri di UKS atau di sudut kelas. Prestasinya merambat naik. Dari angka tiga , empat , lima hingga dia dapat nilai sembilan pada ujian lisan mata pelajaranku. Begitu juga saat ayahnya di panggil Yang Kuasa. Sepertinya hatinya telah ikhlas dan berpasrah pada garis takdir. “Saya akan bantu ibu cari uang bu, saya akan jaga warung sepulang sekolah”, begitulah cerita Sri sebagai isyarat dia akan bangkit . Tak terpikirkan olehnya rencana bunuh diri lagi. Hati dan pikirannya telah bersih. Berganti optimis dan semangat yang kuat. Sugesti positif dan salat sebagai obat hati itu telah tertanam dalam di pikirannya. Puncak kesyukuran adalah bahwa Allah sebaik –baik penolong. *** Kesurupan adalah kondisi yang ditandai oleh perubahan identitas pribadi. Kesurupan disebabkan oleh masuknya roh halus ke tubuh manusia, meskipun dunia medis tidak mengenal makhluk halus. Penyebab kesurupan adalah tekanan sosial dan mental yang masuk ke alam bawah sadar seseorang. Bantuan ustadz (atau ada yang dukun ) menurut saya masuk akal, karena orang kesurupan sedang dibantu (dinavigasi dari luar oleh ustadz/dukun/lain-lain) untuk memasuki wilayah alam sadarnya kembali. Sugesti positif juga dibutuhkan saat mental anak mengalami drop atau pada saat muncul perasaan menyerah. Sugesti adalah proses psikologis dimana seseorang membimbing pikiran, perasaan atau perilaku orang lain. Seseorang perlu disugesti jika pikirannya sedang kacau balau, atau terpecah belah. Pada situasi seperti ini, seseorang susah berpikir jernih, seakan terdapat benang kusut yang berada di kepala. Masalah satu belum selesai, muncul masalah lainnya. Di tengah kebingungan dan konsentrasi yang terpecah belah inilah, sugesti lebih mudah dan akan bermanfaat untuk membangun semangat dan kepercayaan dirinya. Pemberian kasih sayang dan perhatian juga sangat penting bagi mental putra – putri kita. Jangan sampai anak merasa sedih , kesepian dan putus asa. Jika anak mengalami kegalauan yang berlebihan maka akan mudah dirasuki oleh pengaruh negatif dari luar dirinya baik itu jin atau manusia jahat disekitar lingkungannya. *** Penulis: Ari Susana, Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Bekerja sebagai guru honor sejak 2004. Diangkat menjadi PNS di SMA 1 Rongkop tahun 2009. Hobinya menulis buku harian, dan senang bergabung dengan pegiat literasi dalam penyusunan buku antologi. Menjadi seorang guru pada modernisasi yang kian melesat dengan perkembangan teknologi yang tak kalah hebat, guru harus tetap memiliki ruang tersendiri dihati para siswa. Dia mencintai siswanya dan bangga dengan profesinya. Karakter siswa itu unik dan beragam. Dia senang menulis kisah- kisahnya bersama si murid dan mengoleksi tulisannya itu di blog . Sebagai guru Pendidikan Agama Islam dia memiliki obsesi untuk bisa menyentuh hati para siswanya dengan qoulan_baligha. Mengajar karakter lebih menantang baginya daripada mengajar materi kognitif . Di kampungnya, dia sebagai guru ngaji. Mengobarkan semangat mengajar Al-Quran pada generasi muda seolah menjadi salah satu target hidupnya. Dia berharap, generasi penerusnya adalah generasi yang beriman, cerdas, dan penuh prestasi. 83-arisusana-blogspot.com Fb. Ari Susana IG . Bunda Queen

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda