Rabu, 02 September 2020

Cara Ibu Menyayangiku

Sudah jam 11 malam. Jendela browsing masih terbuka dilayar laptoku . Aku sedang mencari sesuatu. Tipe ibu, topik yang mengarahkan telunjukku untuk menekan tombol search. Ku baca artikel tipe ibu tradisional yaitu ibu yang punya jiwa pengasuh. Dia bekerja keras untuk menjadi ibu yang sempurna. Selalu mengutamakan kepentingan anak dan selalu membuatkan kue – kue sendiri di rumah. Tipe ibu yang bebas, yaitu ibu yang menginginkan kemandirian untuk anaknya. Anak –anak bebas menggunakan waktunya . Dia selalu mendorong anaknya untuk berani berpendapat dan membuat keputusannya sendiri. Anak akan berkembang pribadinya. Aku merasa iri , andaikan ada yang memiliki ibu dengan tipe seperti ini. Aku masih mencari cari tipe yang persis dengan ibuku. Aku menemukan artikel berikutnya tentang satu tipe ibu mata- mata, yakni ibu yang selalu mencoba mempengaruhi anaknya. Dia selalu terlibat dalam kehidupan anak . Dia selalu ingin memperhatikan kesehatan jiwa dan raga anaknya. Namun dia sering terbentur dalam menyeimbangkan antara selalu disisinya dengan membiarkan anak membuat keputusannya sendiri. “Nah ketemu. Itulah ibuku” ,desisku lirih. Namaku Susanti. Aku seorang anak perempuan yang sudah dewasa bahkan sudah berumah tangga. Alhamdulillah aku memiliki ibu yang masih muda, cantik dan pekerja keras. Kalau bepergian , kami sering dikira kakak beradik. Dulu menurut cerita ibuku, dia dijodohkan oleh nenek ketika masih usia enam belas tahun. Sayang , sejak usia empat puluh dua tahun ibuku sudah harus menjadi janda. Ayah meninggal mendadak karena serangan jantung. Ibuku sekarang masih sendiri. Aku adalah seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas. Saat ini aku memiliki dua anak , satunya masih balita. Ibu yang mengasuhnya saat aku tinggal mengajar di sekolah. *** “Pulang sekolah nanti kita lihat pawai ya..” kata ibu ketika aku sudah menenteng tas hendak berangkat kerja. “Ya, boleh. Kita difinish saja , kemungkinan aku pulang sudah sangat sore bu “. Jelasku pada ibu. Sepulang sekolah, kamipun bergegas cepat untuk melihat pawai di jalan menuju finish. Sambil menanti pawai melintas didepanku, aku melihat seorang anak kecil digandeng oleh kakeknya juga sedang menunggu pawai yang akan lewat sebentar lagi. “Kung, ayo kung...!” panggilan si anak kepada si kakek. Tiba- tiba ibu mengajakku pergi dari tempat itu . Aku melihat ibuku berkaca, hendak mau menangis. “ Kenapa bu? “ “ Aku tidak mau melihat anak kecil itu “. “Dia bahagia sekali dengan kakeknya, sementara cucuku ....”, ibu tidak melanjutkan pembicaraannya. Aku yakin ibu teringat ayah. Berulangkali kejadian kecil seperti itu membuatku tidak siap untuk memberi solusi. Aku hanya menuruti apa permintaanya dan berusaha menenangkannya tiap kali dia teringat almarhum ayah. *** Suatu pagi, ibuku pulang belanja dari warung. Biasanya dia bersemangat untuk menunjukan suatu makanan kesukaanku yang telah dia beli, namun kali ini tidak. Ibu diam saja . Nampak ada yang dipikirkan. Aku mencoba mengartikan sikap ibu yang tiba tiba diam. Tadi sebelum kewarung masih bercakap biasa. Sekarang kok diam seribu bahasa. Saat aku dibelakang meja makan, tiba – tiba ibu memelukku sambil menangis. “Ada apa bu, ibu menangis ?” tanyaku dengan penuh selidik. “ Kalau ada yang kurang ajar sama ibu, kau harus bela ibu ya nduk...!” tangisnya makin jelas dan air matanya mengalir deras. “ Iya bu, tentu saja, aku akan membelamu. Tenanglah, ceritakan bu. Apa yang terjadi di warung tadi.” Aku duduk dan siap mendengarkan cerita ibu walaupun aku pastikan aku akan datang terlambat sampai di kantor pagi ini. Ternyata, seorang laki- laki telah menggoda ibuku. Aku mencoba mengerti apa yang dirasakan ibu. Dia merasa diremehkan jika dihadapan perempuan. Dia merasa dilecehkan jika ada laki- laki yang memandangnya . Sejak tidak ada ayah, ibu menjadi sangat sensitif. Aku harus memahami dan menghiburnya setiap saat. Kalau aku sedang capek dan banyak pikiran , sementara ibu sedang sedih aku akan berubah menjadi orang lain yang ceria, aku harus jadi super hero bagi hati ibu yang lemah. Aku akan abaikan perasaanku asalkan ibu kembali tersenyum. Ibu pernah bilang tidak ingin menikah lagi. Aku buru- buru menahan ucapannya dan menyuruh ibu untuk mencabut kata- kata itu. “Serahkan pada Allah saja. Jika masih diberi jodoh , ibu terima saja .” Begitulah nasihatku kepada ibu. *** Delapan tahun kepergian ayah,Pikiran ibu seolah sudah bangkit. Tidak menyangka ibu mengenalkan seorang laki- laki padaku. “Dimana ibu mengenalnya ?”, hatiku berbisik. Ibu menceritakan bahwa ternyata dia menolong ibu saat ibu membawa sepeda motorku dan terjatuh di jalan. Sejak ibu mengenalkan laki laki calon ayahku itu, aku menjadi tempramental. Bawaannya pengen marah terus. Seolah-olah aku tidak siap dan tidak mau menerima kenyataan bahwa akan ada cerita baru , wajah asing, pakaian asing dan banyak hal akan mengganggu kenangan almarhum ayah dirumahku. Bagaimanapun juga Allah telah mempertemukan ibu dengan jodohnya. Aku kembali luluh dan mengabaikan perasaanku. Aku siapkan kebaya baru untuk akad nikah ibuku. Warnanya putih tulang, dan agak kebesaran dibadan ibu. Ibu kelihatan bahagia memakainya . Akad nikah berlangsung khidmat, walaupun hatiku tidak bisa ku ceritakan rasanya. Aku harus bersikap bijaksana dan dewasa. Ibu butuh seseorang untuk teman di masa tuanya. *** Aku mulai membuat pondasi rumah , dibelakang rumah ibuku. Dengan tabungan dan uang pinjaman dari bank , aku berhasil membangun rumah sendiri dengan suamiku. Aku bermaksud meminta ijin kepada ibu untuk pindah ke rumah baru itu. “Bu, aku tak pindah rumah baru yaa...”, pintaku pada ibu. “ Ya, boleh saja. Nggak usah bawa perabot apalagi mau masak sendiri”. Pesan ibu itu sudah membatasi ekspresiku mau menempati rumah baru. “Kamu itu nggak usah beli perabot masak. Beli saja kasur, tivi, kulkas atau yang lain.” Apa maksud ibu, heran aku. Meskinya beliau bangga aku akan berlatih mandiri. Ibu selalu mendikte apa yang harus aku lakukan. Suatu ketika ibu menengok paman yang sakit di Jakarta. Aku tinggal sendiri saja dirumah. Bersama anak dan suami saja dirumah sangat sepi. Biasanya pulang kerja aku langsung disuguhi makanan oleh ibu. Anak- anakku yang kesepian juga mulai menanyakan kakungnya. Biasanya bapak yang asuh anak anakku saat aku mengajar. Anak –anak seharian rewel, dapur tidak terurus dan badanku sangat letih. Aku mencoba merebahkan badanku di kasur. Kalu ibu tidak memaksaku untuk membeli kasur ini, pastilah aku belum punya sekarang. Sejenak mataku memandang sekeliling. Ada tivi, kulkas, almari dan meja makan. Semua itu ibu yang suruh membeli, sekalipun aku tidak menghendaki. Hampir aku tak pernah ada kesempatan untuk jalan- jalan atau membeli barang kesukaanku. “ Halo, assalamu’alaikum ...” Suara ibu terdengar di telpon. “ Wa’alaikum salam,” kapan pulang bu?? Aku sudah sangat lelah. “ He..he..he,,” Suara tertawa ibu seperti bahagia meliahat aku keteteran dirumah ngurus rumah dan ngurus anak. Satu minggu ditinggal ibu, rasanya seperti setahun . Aku seperti tanpa arah. Semua urusanku tidak bisa beres. Malam ini anak anak sudah tidur lebih awal. Aku merenung dan mengevaluasi diri. Selama ini aku berpikir salah tentang ibu dan bapak. Seketika air mataku menetes. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku selalu protes dengan apa yang di inginkan ibu, padahal aku tanpa ibu tidak bisa hidup bahagia seperti sekarang ini. Muncul juga rasa bersalahku terhadap bapak. Beliau begitu tulus tanpa pamrih menyayangi ibu dan anak –anakku. Ibu benar benar pandai memilih jodoh. Bukan hanya untuk ibu sendiri, tapi bapak adalah sosok yang bisa menerima anak anak sambungnya dengan ikhlas . Hanya pena yang menjadi teman dan pendengar ceritaku . Kutulis surat untuk ibu agar ibu tahu aku sangat menyayanginya. Bismillahirrahmaanirrahiim Teruntuk Ibu, Doa ku mengawali surat ini, semoga ibu diberikan oleh Allah kesehatan, panjang umur dan bahagia. Bu, aku sangat menyayangi ibu bahkan karna sayangku sama ibu aku tidak bisa memprotes atau mengeluh atas sikap sikap ibu terhadapku. Barangkali surat ini membuatku berani untuk menyampaikannya kepada ibu. Bu, ibu itu sering membuatku jengkel. Terutama saat ibu bersalah tapi ibu tidak mau mengakui kesalahan. Ibu itu anti kritik, sampai sampai aku menyerah saat ingin menyampaikan pendapat jika ibu sudah kukuh pada keputusan tertentu. Aku lebih aman diam . Ibu, aku tahu bagaimana dosanya jika aku sampai melawanmu. Bilang “ah “ saja sudah berdosa, apalagi sampai menyimpan ganjelan mangkel seperti aku ini. Ibu, aku takut durhaka padamu. Janganlah sekali kali mendoakan aku dengan keburukan ya bu, karena pasti akan aku terima azab buruk itu. Aku juga takut masuk neraka bu...., Ibu, jika aku membaca kisah para sahabat nabi yang mencintai ibunya dalam kisah Uwais Al Qarny misalnya. Dia menggendong ibunya sepanjang waktu, dia rela tidak menikah, dan rela tidak bekerja hanya untuk merawat ibunya yang sudah renta. Lalu bagaimana aku ini bu....? Aku malah selalu merepotkan ibu, dan bahkan sering membuat ibu marah. Bu, aku ini sudah kau sarjanakan dan kau doakan jadi guru . Saat aku melamar formasi PNS itu, ibu selalu berpuasa untuk mendoakan agar aku diterima. Ibu selalu shalat tahajud agar aku bisa lolos seleksi PNS itu ya bu. Ternyata benar bu, berkat doamu aku bisa menjadi guru PNS seperti sekarang ini. Dengan cepat pula aku dapat sertifikat guru profesional. Kau pernah menceritakan bahwa aku ini lahir sungsang .Satu minggu jelang kelahiranku membuat ibu kesakitan. Setelah itu masa kecilku dipenuhi dengan penyakit. Aku tidak mau di imunisasi, ibu bilang kalau habis imunisasi aku selalu kejang kejang. Kalau aku sakit ibu membawaku ke dokter dengan berjalan kaki dan menggendongku gendeyotan ,waktu itu belum ada motor. Orang biasa menaiki tebing pinggir sungai sebelah timur kampung kami untuk jalur akses ke pasar, ke puskesmas, atau ke dokter praktik. Waktu aku usia 6 tahun, aku jatuh dari sepeda .Kakiku tertancap pedal yang sudah gundul. Kakiku bolong dan harus dijahit. Aku tidak bisa jalan selama dua bulan. Tiap malam aku minta digendong untuk mengurangi rasa sakit itu. Dan banyak pengorbananmu yang tidak aku ketahui. Maafkan aku ibu, aku berjanji akan merawat dan menyayangimu selamanya. Salam sayang dan hormat anakmu Susanti Setelah kutulis surat itu, lega rasanya dadaku. Aku mulai mengantuk dan memejamkan mata. Ari Susana, Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Bekerja sebagai guru honor sejak 2004. Diangkat menjadi PNS di SMA 1 Rongkop tahun 2009. Hobinya menulis buku harian, dan senang bergabung dengan pegiat literasi dalam penyusunan buku antologi. Menjadi seorang guru pada modernisasi yang kian melesat dengan perkembangan teknologi yang tak kalah hebat, guru harus tetap memiliki ruang tersendiri dihati para siswa. Dia mencintai siswanya dan bangga dengan profesinya. Karakter siswa itu unik dan beragam. Dia senang menulis kisah- kisahnya bersama si murid dan mengoleksi tulisannya itu di blog . Pengalaman berharga selama mengajar, dia gunakan untuk terus memperbaiki diri dalam mengajar dan memoles karakter karakter hebat para siswanya. 83-arisusana-blogspot.com Fb. Ari Susana IG . Bunda Queen

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda