Rabu, 03 Februari 2021

aku minta keadilan

Aku merasa kurang diberi arti.
Apa yang kurasakan, senang, sedih,terluka kekasihku tidak peduli.
Dia hanya bisa menjadi rindu disiang hari dan teman tidur dimalam hari.
" Aku berangkat kerja ya.."
Dia mengangkat tangannya untuk bisa bersalaman denganku dan kucium punggung tangannya dengan hambar. Kadang kalau aku bekerja juga, aku yang duluan pamitan.
"Aku berangkat ya..."
Aku tersenyum memanja dan menarik gas motorku meninggalkan halaman.

Sore hari kami bertemu kembali, minum teh bersama dan bercerita apa yang di alami ditempat kerja.
Sampai jamnya tidur tiba ,
Disini aku merasa sedih.
Dia nyenyak duluan, sementara aku menemani si kecil yang blm juga mengantuk. Badanku lelah, namun kupaksa untuk tetap bermain sama si kecil. Kadang aku ketiduran, dan rengeknya membangunkanku.
Untung ada dia, kalau tidak maka serasa tak ada yang membutuhkan aku lagi . Aku kembali memfokuskan pikiranku pada kemauan si kecil. Aku sembunyikan lelahku darinya.
Aku hanya melihat wajah kekasihku itu yang makin lelap saja. 
"Huuuh...."

Jamnya si kecil tidur, entah kenapa aku malah tidak bisa ikut tidur.
Kakiku pegal pegal dan mataku berair. Aku sedih... Dan kepingin sekali ditanya " kau lelah ?"

Apakah aku juga tidak peduli, sehingga tak pantas meminta hakku?
Ditanya, dan diajak memejamkan mata bersama , atau dibangunkan dengan rindu yang belum habis.

Segunduk beban di ujung tangis tiap kali aku memulai istirahat malamku. Belum reda, harus bangun karna pagi yang tak pernah bisa ditunda.

Kebangetan. Aku selalu menangis karna hal ini. Kok gak pernah jenuh atau capek ya aku .

Hanya waktu , niscaya membawaku menua .

# aku kepala tiga, ekor delapan#

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda