Kamis, 14 Januari 2021

Gerilya

PSBB dari tanggal 11 sampai tanggal 25 membuatku gusar. Berita kematian karena covid semakin sering disekitar kampung saya. Apakah benar covid sudah menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kematian. Ataukan sebelum ada covid memang angkanya sudah begini?
Bagiamana dengan jenazah yang mati, kemudian hasil swabnya negatif? Itu membuat saya tidak legowo. Meskinya kalau indikasinya tidak jelas ya jangan dibilang covid dong. Itu urusan siapa, silahkan dipertanggung jawabkan. Urusan saya adalah dengan PSBB .

Saya harus mencari cara, biar bisa dirumah tapi tetap bekerja sesuai tugas. Saya dijatah sebagai pendidik. Saya disuruh masuk kantor.Saya disuruh mencerdaskan anak, kemudian saya digaji sesuai dengan aturan. Maka saya juga punya aturan main sebelum menerima gaji itu.
KBM daring yang semula saya laksanakan di sekolah kini sudah tidak bisa lagi. Saya harus mengajar siswa dari rumah. Mencoba meninggalkan metode lama yaitu semula dengan wa sekarang beralih ke google classroom. Rasanya memang lebih baik, tapi tidak mencapai 100% peningkatannya.

Dengan wa, saya harus merekap semua tugas secara manual, ribet dan jenuh. Namun respon siswa baik.

Dengan Google classroom, saya hanya butuh waktu 1hari mempersiapkan materi, dan 10 menit menyampaikan ke semua kelas yang saya inginkan.semua tagihan tugas sudah dilaporkan oleh Google classroom.  Ini simple, tapi ada beberapa siswa yang tidak bisa terakomodasi. Solusinya saya biarkan ngirim tugas lewat wa juga. Meski pake kertas juga untuk catat namanya satu persatu.

Okelah, saya menikmati pekerjaan ini. Bahkan akan saya cari pekerjaan tambahan agar lebih nikmat lagi.

Pagi hari, saya merasa banyak waktu kosong. Memasak dan momong anak yang semula menjadi hobi saya sekarang sudah tidak nikmat lagi.
PSBB membuat saya merasa bersalah jika harus saya gunakan hanya untuk momong dan masak. Saya akan lakukan masak lebih mruput dari biasanya. Anak akan saya biasakan mengikuti agenda saya, walaupun dia agak tidak suka.
Saya buka TPQ dirumah, saya jadwalkan beberapa anak datang setiap hari secara bergantian. Saya kenalkan akidah, saya kenalkan akhlak,dan saya simak baca qurannya. Alhamdulillaah, hari saya lebih berarti. Ditengah kondisi sulit, saya merasa banyak lengah dalam mengajar. Saya merasa tidak maksimal menjalani profesi saya sebagai guru. Sekalipun banyak hal tugas guru yang belum saya selesaikan, misalnya administrasi pembelajaran atau pembuatan karya inovatif yang akan membantu saya naik pangkat. Buat saya itu tidaklah penting saat ini. Itu hak saya saja, sementara hak anak anak masih banyak yang belum saya berikan.

TPQ dirumah ini bentuk gerilya saya agar PSBB tidak berdampak bagi kewajiban saya mengajar.
Gerilya ini membuat saya merasa senang dan tenang.
Lillaah...Lillaah....
Fii sabilillaah
#jadikan aku lebih berarti#