GURU SEJATI
(Refleksi menyambut Hari Ibu ) Oleh : Ari Susana, S.Pd.I “Ibu tak pernah cuti, tak ada uang lembur. Keberhasilan ibu adalah keberhasilan anak- anaknya, serta kesedihan anak- anaknya adalah kesedihan ibunya “( Mario Teguh ). Sebelum menikah, seorang gadis harus bertanya kepada dirinya sendiri. Sudah siapkah dia menjadi istri yang berbakti pada suaminya. Sudah siapkah ia menjadi ibu bagi putra putrinya? Perlu diketahui bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang kuat. Seorang ibu akan mengatur roda rumah tangga mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Tugas pokoknya adalah mendidik anak , dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Dasar-dasar pondasi keimanan, sopan santun dan disiplin, hanya ibu yang bisa mengenalkan dan melatihnya sejak awal. Jika anak mulai tumbuh besar, tidak selalu ibu dapat mendampingi anaknya. Sekalipun demikian, tapi jalinan kasih ibu akan terus mengalir lewat doa-doanya. Robbij’alni muqimashalaati wamin dzurriyatii rabbanaa wa taqabbal du’a. Menjadi ibu diperlukan kematangan dan kedewasaan agar dapat menjalankan perannya. Memahami keadaan anak dengan segala kekurangan dan kelebihannya memang sangat mutlak bagi orang tua. Bagaimana karakter anak kita dan bagaimana cara menghadapinya, itulah yang penting untuk dipelajari . Tipelogi kepribadian anak yang sering digunakan oleh famili terapis, terbagi menjadi empat golongan. Tipe Korelis, tipe anak tegas dan cenderung memimpin. Tipe sanguinis yaitu anak yang cerah ceria bisa mendengar suaranya jauh sebelum melihat orangnya. Tipe Melankolis yaitu tipe anak rapi dalam berdandan, suka memendam sesuatu, ahli dalam perencanaan dan ahli dalam analisa. Atau tipe plegmatis, anak penurut. Ke empat karakter itu, hanya ibunya yang lebih paham dan lebih mengenalinya . Ibunya juga yang mampu membimbing dan mengarahkan anak menjadi pribadi yang berkarakter . Sabda Rasulullah SAW yang artinya :” Tiada seorang anakpun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu yahudi, nashrani atau majusi .” (HR. Bukhari – Muslim ). Anak juga memiliki kebutuhan emosional yakni butuh rasa aman , ingin diterima atau dicintai dan butuh kendali kontrol yang tepat. Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam mendidik anak. Suatu ketika dihadapan anak-anak Nabi berkata :“ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku aku akan berikan sesuatu ( hadiah ).” Anak-anakpun berlarian berebut menuju ke pangkuan beliau. Rasulullah memeluk dan menciumi mereka dengan penuh kasih sayang. Rasulullah senang bermain –main dan memangku anak anak. Rasulullah kerap mencium anak- anak yang berduka, rasulullah menyayangi cucu- cucunya , rasulullah paham bagaimana mendidik anak yang baik, yaitu dengan kelembutan dan kasih sayang. Anak pada hakikatnya adalah amanat dari Allah SWT yang harus disyukuri. Cara mensyukuri karunia tersebut adalah dengan merawat, mengasuh, dan mendidiknya dengan baik dan benar. Kesuksesan mendidik anak tidak datang tiba- tiba. Butuh waktu dan banyak proses yang harus dilalui. Sumber lain memberi pelajaran bahwa pendidikan orang tua sangat mempengaruhi watak atau karakter anaknya. Berikut puisi berisi ilmu mendidik anak dari Dorothy Law Nolte.
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik –baik perlakuan
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman
Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyayangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
***
Semoga setiap ibu senantiasa diberi kemudahan dan petunjuk dalam mendidik dan membesarkan anak -anaknya. Ibu sebagai tempat mengadu. Pangkuan ibu adalah tempat ternyaman untuk melepas lelah . Pelukannya adalah pengusir ketakutan. Nasihatnya bagaikan fatwa, hingga anak merasa ibu adalah guru yang paling benar. Karna itulah , jangan sembarangan mengucap kata-kata buruk didepan anak, jangan mencela dan merendahkan orang lain saat ibu sedang membenci, jangan mudah melarang dan membatasi garaknya jika itu sebuah kebaikan .
Tetap sabar memberi keteladanan, karna Ibu adalah guru sejati. Didalam pengajarannya anak akan mengerti siapa Tuhannya, bagaimana cara menyayangi sesamanya, dan mengerti konsekwensi atas perilaku baik dan buruk di kehidupan kelak.
