Jumat, 21 Agustus 2020

Muharram....

https://youtu.be/iiA__IxKObw
Suro/ Muharram / Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Ini bersamaan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah yang diterbitkan Sultan Agung. Keputusan ini ditempuh dengan latar belakang penetapan 1 Muharram sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar Bin Khathab, khalifah Islam di jaman setelah Nabi Muhammad wafat.

Pada tahun 931 H atau 1443 tahun jawa baru, yakni pada zaman Pemerintahan Kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem Kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. Diperingati setelah magrib pada hari sebelum tanggal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.
Sesunguhnya ada banyak latarbelakang historis peristiwa penting yang terjadi di bulan Suro, khususnya penganut agama Islam, yang tentu saja berafiliasi dengan kebudayaan Mataram Jawa-Hindu. Untuk sebagian masyarakat Jawa pada malam satu suro dilarang kemana-mana kecuali untuk berdoa atau melakukan ibadah .
Warga berjalan tanpa alas  kaki dimalam hari . Pakaian yang dikenakan adalah pakaian adat , baju lurik. Mereka berjalan sambil membisu/ tak boleh berbicara . Perjalanan diakhiri di balai dusun, mereka duduk bershaf dan melakukan doa bersama. Setelahnya hanya Allah Sang Pemilik Ilmu.
Ambil hikmah positif  yakni:
1. Kemauan masyarakat merendahkan diri dan meninggalkan kesombongan dengan berjalan tanpa alas kaki.
2. Menurut workshop yang penulis ikuti, baju lurik itu ageman rakyat paling bawah, jadi masih sesuai dengan tujuan meninggalkan bentuk kesombongan/ membuang sekat sosial.
3. Membisu, simbol merenung, mengingat dosa yang telah dilakukan, syukur dengan istighfar pertanda tobat.
4. Diakhir merenung dan tobat, memperbanyak doa dan perbuatan baik, tujuannya agar tobatnya diterima.

Selamat Tahun Baru Hijriyah
Semoga selalu dalam petunjuk.

# muhlisiina- lahuddiin,tetap bijak#
Mbakarisusana@gmail.com



Kamis, 20 Agustus 2020

Salah Strategi

Kontes buah akan segera dimulai.
Para buah buahan sibuk menyusun diri keatas piring saji. Dimualai dari pisang, sikuning lembut ini merelakan diri untuk berada diatas piring pertama kali . Bentuknya seperti tangan menengadah mampu menopang teman teman yang diatasnya. Selanjutnya apel menempatkan diri. Disusul jeruk warna orange melingkar cantik bersiap memangku anggur yang penuh pesona rasa. Diujung ada buah stroberi duduk kian manja .
Sudah bagus tatanan buah buahan itu. Namun semangka sebagai buah yang besar, merasa ingin menampakkan kegagahannya.
Dimana dia harus diletakkan.
Waktu sudah hampir habis, duduklah semangka dengan hati hati diatas stroberi. Dia mulai angkat bicara...., Buah dibawahnya sudah was was. Ketika piring hendak disajikan, runtuhlah susunan buah buahan itu.
Gagal tampil mempesona gara gara semangka. Jangan kau diatas, meskinya kau membelah diri dan berada di piring lain.




Selasa, 18 Agustus 2020

Kisahku bersama bapak

Malam itu bapak masih diluar.
Ini sudah larut, masih saja terdengar suara letusan jagung goreng itu dikunyah sama bapak. Aku kembali menggulung diri dalam selimut tebal sambil keheranan kenapa bapak tidak bisa tidur. Mungkin karna memikirkan bapak,sampai- sampai terbawa mimpi. Dalam mimpi itu bapak menyuruhku memanjat tas pakaiannya . " Ayo naik!" Kata bapak. Aku mendongak keatas. Di depanku tampak tebing batu yang tinggi , seperti dipinggir sungai letaknya. Kami menyebut tebing itu " pereng".  Aku kesulitan menaiki tebing itu, tapi tetap saja bapak menyuruhku menaiki batu batu , kadang ranting kering harus aku injak untuk sampai ke atas. Terakhir diujung panjatan ada bunga Kamboja yang besar, aku menoleh kearah bapak yang ikut memanjat bersamaku. "Ayo cepet, panjat pohon itu ". Akhirnya sampailah aku dan bapak diatas tebing. Hamparan sawah nan hijau menyambutku. Sekeliling sawah ada pohon pisang tumbuh subur. Indah sekali terlihat." Ikutlah dia! " , Bapakku memerintah sambil menunjuk ke arah seseorang. Ada seorang laki laki memakai sarung berada di sekitaran sawah hijau itu. Ternyata dia adalah bapak mertuaku. " Pak !", Kok ada tempat sebagus ini disini". Aku kegirangan melihat mertuaku. Tapi beliau menunjukan wajah tidak suka melihat aku menghampirinya. " Disini ngga ada air kok nok". Orang tuaku beserta mertuaku  biasanya memanggilku " sinok ". Seketika aku berubah pikiran. " Oh, tidak ada air, brati aku mbalik saja. Aku mau turun lagi". Aku kembali menghampiri bapakku yang menunggu. Pagi hari saat kami berkumpul untuk minum teh, bapak masih saja lantang menceritakan keberadaannya diluar semalaman karna tak bisa tidur. Hari berikutnya , bapak ingin pergi mencari penghasilan ke Jogja. Sudah sejak aku kecil bapak berjualan bakso di pasar Kolombo, Jalan Kaliurang. 
Hasilnya lumayan, terbukti bisa membelikan aku sebuah motor v80 warna merah, dan menamatkan aku sebagai sarjana .
Sekolah tak harus yang mahal, yang penting bisa jadi guru, itu cita cita bapak. Besok kalau sudah jadi guru, bapak belikan motor seken, yang  warna hitam. Begitu jelek cita cita bapak.Motornya cuma seken, yang penting warna hitam artinya lebih bagus dari v 80 itu . Yang penting jadi guru,tidak digaji tidak apa apa, nanti bapak yang cari uang. Begitulah kekudangan bapak sejak aku kecil. Tapi ternyata cita cita bapak dikabulkan oleh Allah SWT. Aku sudah jadi guru PNS, dan sudah naik motor hitam. Bapak sudah bahagia dan tenang sekarang, karna aku sudah jadi guru dan sudah berpenghasilan. 
Tepatnya malem satu Muharram, bapak pulang, tapi pergi lagi. Orang melihat kepergiannya dengan tangis, sementara aku tidak. Aku berpikir, bapak akan pergi sebentar dan kami akan menyusulnya. Jadi aku hanya berpasrah pada yang kuasa, kami akan cepat dipertemukan dengan bapak. Tiga hari kemudian bapak datang.  Aku tanya " bapak kemana?"
Bapak tersenyum sapai kelihatan giginya " tidak kemana mana, bapak disini." Bapak duduk di kursi dapur, sembari menunggui aku menangis . Walaupun aku menangis bapak tetap pergi lagi. Hari ke 7 ,bapak datang lagi. Dia ingin mengajakku ke sebuah rumah sakit. Sampai dirumah sakit, aku melihat dokter dan suster melintas di depanku....,aku berlari menghampiri mereka." Dok,bapak saya sakit apa?", Dokter dan perawat itu tidak menjawab. Hanya melihat bapak ku seperti tidak kenal. 

Hari ke 40 , bapak datang lagi. Dia ingin mengajakku jalan jalan. Aku dibawanya kesebuah tempat wisata, banyak kuda kuda tunggang disana. 
Bapak menyuruhku menaiki salah satu kuda, aku menolaknya. Kalau aku naik kuda, bapak pasti akan pergi meninggalkanku lagi. Tapi bapak tetap mamaksaku. Dan benar, setelah aku naik kuda, bapak menghilang. Kepergian bapak kali ini agak lama. Sampai aku merindu. Membiayai adik sekolah SMA,aku juga merasa agak kuwalahan. Ternyata kalau bapak tidak ada, begitu berat hidup ini. Belum lagi, atap bocor dikala hujan juga membuat risau. Biasanya bapak yang perbaiki. Kamar kamar yang bersekat triplek mulai lusuh dan keropos. "Bapak, pulang lah, buatkan aku kamar dari tembok". Bapak seorang tukang bakso, tapi juga bisa jadi tukang kayu dan tukang bangunan.
Setahun kemudian bapak datang lagi, aku duduk didepannya seperti seorang lumpuh. Aku ingin mengadu sama bapak. Bapak menyuruhku berdiri, tapi aku menggeleng sambil menangis. Aku tidak bisa, jalan di depanku sangat terjal. Kekuatanku serasa sudah habis. Tapi bapak menarikku berdiri. Dia menyuruh kakiku naik diatas kedua kakinya. Aku dititah seperti anak yang belum bisa jalan. Hari berikutnya dia buatkan aku jembatan dari cuil cuilan kayu. Dia menata kayu kayu itu, tangannya melambai seolah menyuruhku lewat jembatan itu. Aku mencoba bangkit, bapakpun tersenyum lega.
Bapak lama tidak pulang lagi. Biarlah, aku sudah mulai mengerti. Setelah 3 tahun, aku bertemu bapak lagi. Bapak memakai jaket kulit warna hitam kesayangannya. Sepatu yang dia kenakan sangat aku kenal. 
" Kemana adek?" tanya bapak.
Aku menyingsingkan rok panjang yang ku kenakan, bermaksud ingin bergegas mencari adik .
Tapi bapak tak punya waktu lama. Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangan. Bapak tersenyum seperti sudah tidak punya beban lagi. Aku meraungpun tetap tidak dihiraukan. Sampai aku terbangun dan percaya kalau bapak pergi untuk selama lamanya.

Ari Susana
Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Senang menulis buku harian dan bersama pegiat literasi menulis buku antologi. Buku antologi yang pernah ia ikuti adalah Berbagi Kisah Memetik Hikmah, Surat Untuk Ibu, Simpang Maya, Untukku, Oktober Bermakna dan Secret Box. Sebagai seorang guru dia ingin menularkan hobinya menulis kepada siswa siswanya. 


Kamis, 13 Agustus 2020

Pelukan Guru

Hari yang bersemangat,pagi yang redup,matahari terselip di ufuk timur sedikit sekali terlihat senyumnya, seolah meringankan langkah kaki untuk laksanakan dhuha di masjid bersama– anak kelas XII. Seperti biasa merekapun sigap mengambil wudhu dan menunaikan dhuha sebelum KBM dimulai. Sesekali mereka berciprat saat wudhu sehingga berulang kali harus mengulang rukunnya. Kunikmati pemandangan itu, dan jarang aku ingatkan selama tidak memolorkan waktu sholat mereka. Akupun menikmati kebersamaan dengan mereka yang asyik, enerjik, gembira dan bersemangat. Entah karna kondisi badanku yang fit atau sebuah kebetulan saja. Ketika aku mengajar kelas MIPA 1 itu memang beda, pelajaran yang kusampaikan serasa nancap tepat sasaran, tidak ada siswa yang mengalihkan fokusku karna keramaian yang biasa dibuat oleh kelas lain. Hari ini tagihan hafalan bagi anak kelas dua belas, seperti biasa begitu aku datang, ku ucap salam dan ku ajak mereka tadarus bersama. Para siswa mengantre-kan bukunya untuk dinilai hafalan mereka.Setiap buku tulis siswa terselip kartu hafalan yang tertempel di sampul buku paling depan. Ada daftar 20 ayat pilihan tertulis disana. Wajah wajah siswa kutatap satu persatu, terlihat mereka mendumil dan gugup menghafalkan. Namun aku temukan juga wajah tidak sabar, mata bersinar, senyum optimis menunggu urutan namanya kupanggil. “Semangat pagi semua..., bismilah mudah –mudahan hari ini pertemuan kita bermanfaat “ Kalimatku memecah keriuhan lafal lafal yang mereka bacakan. Buku bersampul payung coklat, masih juga disampuli plastik bening itu kupungut pertama kali. Aku sudah hafal buku siapa itu, namun basa basi saja aku membaca namanya. “ bunga “ Anak gadis luwes itu maju dengan wajah tenang, dia kenakan seragam dan jilbab dengan rapi, jalannya yang khas agak tegap sedikit membusungkan dada. Mulailah dia melafalkan ayatnya,nilai sempurna selalu aku berikan. Lafal, tajwid, tulisan , terjemahnya lancar dan jelas. Ini bukan yang pertama kalinya. Sejak kelas sepuluh begitulah logatnya saat menghafal. Ini yang membuat hati kecilku bertanya , “anak seperti ini kok jadi bahasan guru dikantor ya?” Lima belas menit kemudian barulah teman –temannya menyusul hafal. Ini biasa kulihat, setiap akhir pembelajaran tak satupun siswa kelas tersebut yang gagal dalam penilaian hafalan ayat pilihan. Mereka mengujikan diri dan mendapat nilai. Selisih angka satu atau dua itu karena tajwidnya kurang tepat. Kalau bunga memang sudah paham tentang kaidah idzhar, iklab, idgham, dan ikhfa. Saat Ujian Semester tiba. Ujian mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung satu jam. Kalau sudah satu jam duduk mengawasi, biasanya aku merasa ngantuk . Kucoba bertahan , aku tak mau hal ini dimanfaatkan oleh siswaku yang curang. Hampir habis jam ujian, aku mengemas berita acara, presensi dan kususun lembar jawab berdasarkan nomor ujiannya. Semua siswa selesai , akupun keluar kelas dengan sedikit menggerakkan otot lengan dan kaki yang kaku karena terlalu lama duduk dikursi. Sepanjang perjalanan ke kantor, banyak siswa menyambutku ingin berjabat tangan. Bukanlah ngefans tapi mereka ingin tau jawaban yang benar pada soalku yang selesai ia kerjakan . Berbagai pertanyaan mereka lontarkan, “bagaimana hasilnya buk ?” tanya salah satu siswa. “ Semoga baik ya... kan belum koreksi “. Ada yang berteriak, “ Buk ayatnya sulit !” ... aku balas dengan senyum. Ada yang masih ngolak alik halaman buku, masih penasaran dengan jawaban . Ada yang cuek saja seperti tidak peduli mau dapat nilai berapa. Fokus mereka adalah pergi ke kantin. Di sudut lapangan basket, bunga girang menyambutku. Dia ujian dikelas sebelahku, sementara guru lain yang mengawasinya. “Hai nduk...” Dia menyaut tanganku dan menciumnya . “Nanti latihan tilawah buk ?” tanyanya dengan kalimat cepat . “ Iya dong”, jawabku lebih singkat. “ Ya,” begitupun jawabnya. “ Gimana Eva kamu tadi, bisa mengerjakan ? tanyaku bersemangat . “Insya Allah bu, Cuma ayatnya agak sedikit kelupaan”, begitu pengakuannya. Aku hanya senyum sambil mengangkat alis dan berlalu melanjutkan langkah ke ruang sekretariat. Sudah bersiap panitia UAS menanti keranjang Lembar jawabku yang ku dekap di atas perut. “Alhamdulillaah, “ sambil kuletakkan dimeja panitia. Waktu istirahat , kami ngobrol bersama para guru untuk melepas kepenatan. Tiba- tiba ada teman yang menyodorkan kepadaku papan ujian dari triplek warna abu –abu. “ Nih bu.... putrane njenengan ! Nyontek , ketangkap kulo “. Mak jeppp...., ini yang membuatku kaget. Nyontek itu kasus yang tidak aku sukai tiap kali siswa ujian. Terlebih siapa yang nyontek , itulah yang membuatku terheran heran. Ku terima papan ujian itu dari pak guru Penjaskes. Papan ujian itu warnanya abu abu, sama persis dengan warna pensil, kalau ditulisi pakai pensil hampir tak terlihat, tapi kalau dimiringkan papannya, maka tampak jelas apa yang ditulis. Ku periksa papan itu, banyak catatannya ada catatan ayat pilihan, ada catatan biologi, ada catatan TIK, dan bekas dihapus berulang kali hingga tulisan di papan itu hampir penuh.Aku makin penasaran siapa pemilik papan itu ?. Kutanya pada guru yang mengawasinya “bunga .. “ jawabnya sambil mengunyah makanan snack ngawas hari itu. Kupandang sekeliling, terlihat teman- teman guru ada yang meledak tertawanya , ada yang njebir bibirnya seolah sudah berulang kali melihat hal demikian. Kulihat teman-teman panitia tanpa respon karna sibuknya menyiapkan soal ujian berikutnya. Bunga, siswa yang bagus prestasinya dimataku, hari ini dia bunuh diri dengan contekan dipapan ujian itu. Ujian hari itu berlalu , aku masih tertegun dan menyesal. Bukan lebay, tapi aku seperti tertipu dan kecewa . Ba’da dzuhur , Bunga menemuiku dan meminta ijin bertemu . Ya, tentu aku mengijinkan karna kami ada kangsen untuk latihan tilawah MTQ hari ini. Raut mukanya sudah muram durja, begitupun dengan raut mukaku, mungkin sudah lebih sinis dari perasaanku. Bunga dihadapanku, air matanya mengalir deras, amat deras sampai tangisnya terdengar jelas. : “Hu hu hu....”(menangis keras ). “ Maafkan saya buk..., maafkan say buk,....., saya tidak bermaksud buk, saya tidak sengaja buk...” Begitulah Bunga merengek tak henti. Aku masih terdiam dan mengamatinya, tak tau kata apa yang pertama kali akan ku ucapkan. Aku lunglai, seperti kehilangan barang berharga.... dan aku tau barang berharga itu adalah kepercayaan dan kebanggaanku terhadap muridku ,bunga. “ Kenapa kok kamu berani mencontek? Kenapa kamu mengecewakan saya ? “ Kumulai dengan kata kata itu dan tangisnya makin menjadi. Matanya lebam tandanya hari itu banyak nangis. Kembali lagi aku mengutarakan kekecewaanku."Bunga, sebagian besar guru menilaimu negatif selama ini, ternyata bener ya. “ Padahal kamu itu selalu tak belo lho nduk,”. Setiap ujian lisan saja kamu maju pertama kali. Kamu selalu berhasil, tapi kenapa waktu ujian kamu mesti buat contekan?” “ Begini buk....malamnya saya tidak belajar. Lantas saya buat contekan karena saya takut gagal ”. Tangisnya sesekali mereda dan sesekali muncul lagi. Aku masih kebingungan, jikalau harus aku hukum kelakuannya ini aku takut membunuh semangatnya sebagai wakil sekolah dalam ajang lomba MTQ ,tapi kalau aku memaafkannya aku takut dia mengulanginya kembali. “ Begini Bunga, ibu percaya kamu menyesali perbuatanmu dan tidak akan mengulanginya .”, “ tapi ibu ingin menunda memberimu nilai , ibu ingin menenangkan diri ,memulihkan kepercayaan ibu dulu. Tapi ibu yakin dan percaya kamu akan memperbaiki diri . “Iya bu, saya berjanji” jawab anak itu dengan penuh yakin. Sejak peristiwa itu seperti ada tahi lalat di wajah Bunga setiap kali aku melihatnya. Biasanya aku bersemangat, jadi tidak. Apalagi ketika bertemu teman guru. Menurutku , aku ini guru yang tidak cermat mengamati siswa, aku tidak paham dengan karakter siswaku. aku salah menilai. “Ya Allah , beri aku kekuatanMu untuk bisa mendidik anak anakku menjadi karakter yang hebat”, desisku dalam hati. Mendekati hari Ujian Sekolah, biasa diadakan training motivasi di sekolah kami. Kelas XII di kumpulkan di sebuah ruangan kemudian kami menghadirkan trainer atau motivator. Hal ini dimaksudkan agar siswa siap mental menghadapi ujian . Aku menunggui kegiatan tersebut dan sesekali ikut terbawa ceria suasana game yang dibawakan trainer. Diakhir sesi ada renungan dan doa yang disampaikan motivator. Musik yang semula enerjik keras , menjadi instrumental nan lembut menghanyutkan perasaan. Kalimat kalimat penuh makna diuraikan oleh sang motivator. Siswa dimasukan pada nuansa kesedihan mengenang orang tua meraka yang lelah mencari nafkah, lelah membiayai sekolah anaknya, sampai pengandaian jika orang tua mereka telah berpulang. Mulai kudengar isak tangis seorang siswa putri , dua orang, dan kemudian disusul lainnya makin banyak jumlahnya. Siswa putra masih menunduk, mereka lebih kuat batin untuk cerita- cerita sedih. Tapi ada pula siswa putra yang sesegukan. “ Ah... tangisan buaya !” mulutku mencibir ingat kenakalan kenakalan mereka. “ Ra sembodo!” kalimatku dalam hati mengumpat. “ Huh..!” Aku meninggalkan ruangan itu hendak minum karna rasa haus yang begitu lama kutahan. Beberapa menit kemudian segerombolan anak mendatangi kantor, semuanya bermata lebam, berisak mengusap air mata. “ Minta maaf ya bu, kami banyak salah..., Minta doa ya buk, kami ingin lulus.” Kata- kata mereka terucap bergantian dan seolah berebut. “Oh... ini acarane suruh minta maaf sama gurunya to “, bisik salah satu guru di kantor. Akupun menyambut mereka dengan pelukan untuk siswa putri... mereka merangkul gurunya satu satu dan tersedu. Heh heh... kalau sudah begini luluh lantak hati sang guru. Seolah lenyap semua subyektifitas. Lenyap rasa pernah marah dan pernah jengkel , melebur dalam maaf dan doa restu yang tulus untuk mereka. Begitupun Bunga begitu erat dan kerasnya memelukku...., dan akupun dengan mata berkaca menyambutnya. “Maafkan ibu nak , kesalahanmu yang sedikit membuatku lupa bahwa kau pernah menjadi juara di hati ibu dan kau pernah mengharumkan nama sekolah dengan tilawahmu, sukses selalu nak doa ibumu ini menyertai”. bisikku menyambut isak tangisnya. Bunga mengangguk dan mengeraskan tangisnya. ------------- Untuk memenangkan sebuah kompetisi , banyak orang melakukan berbagai cara. Bahkan mungkin kebiasaan ini telah diajarkan oleh orang tua mereka sejak kecil. Sehingga anak menjadi terbiasa ingin menang dengan segala cara, termasuk mencontek untuk mendapatkan nilai bagus. Jumlah anak mencontek mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, bukan hanya dilakukan oleh anak yang biasa- biasa saja tetapi juga dilakukan oleh anak yang cerdas dan aktif dalam kegiatan sekolahnya , seperti salah satua anak yang penulis ceritakan. Selayaknya anak anak sejak usia dini selalu dibiasakan untuk bersikap jujur, berani dan bertanggunh jawab. Untuk mencapai keberhasilan diperlukan proses tidak dengan cara instan. Maka sebagai guru , mengajar pendidikan karakter itu lebih menantang ketimbang sekedar mengajar anak anak agar lulus ujian. Murid memiliki karakter bawaan, tugas guru adalah mengarahkan kepada karakter positif tentunya. Namun dalam perjalanan itu tentu ada saja murid yang menjengkelkan, berbuat kesalahan, berkata tidak tepat, dan lain-lain. Guru yang pemaaf begitu penting. Murid yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan perlu dibimbing dengan benar. Dalam batas wajar, guru perlu menyiapkan ruang maaf seluas-luasnya bagi murid diiringi nasihat untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun guru pemaaf bukan berarti tidak memberi sanksi dan memaafkan begitu saja setiap pelanggaran. Ada pelanggaran, maka sanksi ditagakkan, tetapi sebagai guru berbicara secara personal bahwa ia memaafkan muridnya. Hal ini agar murid sadar bahwa ia mendapat sanksi karena melakukan kesalahan. Kalau murid tidak menyadarai kesalahannya, maka sanksi tidak terlalu berguna dalam merubah sikapnya.

Hikmah dibalik musibah

Covid19,
Kehadiranmu mengguncang dunia
Bak momok yang menakutkan
Tak tampak oleh mata,
Kacau karnamu

Tapi ada satu hal yang perlu dipikirkan
Inilah ujian
Sabar dan berdoalah kita akan ditolong.

Anak anak pulang kepangkuan orang tua sekalipun dia rindu gurunya
Qiyamul lail dirumah sebagai penerang jiwa, sekalipun dia rindu masjidnya
Tadarus sebagai cahaya rumah, sekalipun tidak bareng teman teman tercinta....

Semua ada hikmahnya...
Hanya berdoa berdoa
Berilah yang terbaik
Tolong kami
Ampuni kami
Terima ibadah kami

Marhaban yaa Ramadhan 1441 H