Rabu, 23 September 2020

Rindu

Kemeruk ramai bergemuruh
Dalam dada yang sedang sibuk
Tak sempat memikirkan kekasih

Aku duduk bersimpuh
Memasang Indra terpeka dalam jiwa
Tatkala nama kekasih disebut
Berdesir , seperti mendengar desingan 
Ketika cerita tentang kekasih itu dimulai, gemuruh itu kian lirih
Semakin Indra jiwa tertuju,
Maka semakin indah cerita cerita tentang kekasihku itu

Bukan manusia biasa
Karna dijauhi dia mendekat
Dibenci dia memaafkan
Aku tenggelam dalam cerita kemuliaan kekasihku

Air mata dipelupuk , siap mewakili sejuta perasaan
Kenapa aku rindu
Bukankah jauh hari aku melupakannya

Dalam sayup syair doa
Kutemukan nikmat 
Seolah kekasihku bisa memberi syafaatnya untukku

Hari ini telah kubuktikan
Cintaku pada kekasihku
Meskipun tidak sebanding dengan cintanya 

Tak makan,tak minum, menjaga lisan dan hati
Kebahagiaan telah hadir
Rinduku terobati



Sabtu, 19 September 2020

Kehilangan Selera

Saat ini udara sangat panas kisaran 39 derajat Celcius.
Kemarau yang panjang hampir menuju ekornya.
Bunga dan dedaunan di kebunku kusut dan kusam. Ada yang kerdil karna aku salah menaruh diatas atakan pot yang panas. Meskinya aku taruh dibawah pohon mangga yang lebih teduh.

Aku kehilangan selera menulis. Mungkin karna keasyikan membaca karya orang lain. Mau tidur juga takut badan makin gemuk, apa lagi mau makan... ,semestinya aku menahannya dulu. Namun yang ada di pikiranku hanyalah sesuatu yang bisa menyegarkan dan mengurangi hawa panas.

Aku malah membayangkan sup buah yang lezat. Aku akan tulis resep rahasia sup buah. Resep ini mungkin ada yang menyamainya, tetapi dari sekian penjual sup buah,tidak ada yang menyamai sup racikanku.

Pertama aku belah melon jadi dua. Aku buang isinya, aku ambil alat mengambil daging melon yang bentuknya kecil, bulat diujung seperti skop es krim . Setelah selesai bulatan bulatan melon itu aku campur dengan gula pasir. Tergantung mau buat porsi besar atau porsi kecil. Kalau mau bikin 20 gelas , brati 20 sendok gula pasir yang aku campirkan. Kemudian aku tambahkan perasan sebutir jeruk nipis dan aku aduk sampai tercampur rata semuanya. Wadah racikan melon dan gula itu aku tutup dan aku masukan ke kulkas.

Setelah 1 jam atau  lebih, wadah melon aku buka kembali. Aku tambahkan sirup Marjan rasa Coco pandan. Jika tidak ada aku pakai nutrisari rasa strawberry atau jika darurat aku pakai rasa leci. Selain rasa itu tidak akan sempurna rasa sup buahnya. Aku mulai cari teman teman untuk melon. Kadangkala pepaya,kadang kala jelly agar agar, nanas, apel,kadang kadang bengkoang. Tapi kalau apel dan  bengkoang harus diikutkan pada proses rendaman melon dan gula tadi.
Setelah buah masuk ke wadah , tuang air sesuai jumlah sendok gula tadi. Aduk aduk, dan terakhir percantik warnanya dengan buah naga. Tak perlu di aduk buah nag sudah menjulurkan lidahnya hingga keluar warna yang mempesona.
Tak perlu tester rasa, apakah kurang manis atau kemanisan. Ukuranku sudah paten. Langsung saja ambil gelas dan nikmati bersama suami atau keluarga. Sruputan pertama ,pasti mereka menggeleng. Belum sampai setengahnya habis, gelas itu telah penuh kembali. Sup buah buatanku tak ada tandingnya.

Sejam kemudian hujan mengguyur halaman rumah, tak hanya menyejukkan tapi telah mengembalikan seleraku menulis.
Selesai sudah cerpen kedua, DITABRAK JIN LABORATORIUM.
Segera tayang di Blog.

Minggu, 06 September 2020

Pemuda yang dirindukan Negeri

Cahyo , orang memanggilku. Aku pandang fotoku dipost oleh teman di media sosial. Baru sadar kalau ternyata aku lebih tinggi daripada teman- temanku. Ih,kulitku juga putih.Dengan Rambut gondrong sebahu, aku tampak lebih staylist, tapi kalau dari belakang rambutku mirip dengan ibu. Cuek sajalah, keren. Senyumku tak bisa kusembunyikan, walaupun sebenarnya aku malu ketahuan oleh ibu. 
 “Kenapa mas ?” tanya ibu. “ mboten nopo –nopo kok buk, “ aduh malunya aku. Segera kuhampiri gelas dimeja untuk membuang salting di depan ibu. “ Mas, ibu mau ngomong sama kamu, mbok jangan sering nongkrong untuk hal tak berguna to mas, “ . Jangan karna libur covid kamu seenaknya begadang tiap malam. Kuliahmu piye..?” Ibu duduk disebelahku, sesekali bibir ibu manyun tandanya protes dengan polahku belakangan ini. Ibuku sangat cantik.
Bersyukur aku jadi anaknya, setidaknya aku bisa berwajah tampan dan berkulit putih seperti ibu. Kembali aku tersenyum agak mringis, bukan pembicaraan ibu yang ku pikirkan, tapi aku malah mencari- cari kemiripanku dengan ibu. “ Mas...!”, ibu serius.” Nada ibu menaik. “ Gih buk, aku dengar. Memangnya tidak boleh aku begadang. “ Aku kan sudah besar buk, aku begadang karna ada persoalan yang harus diomongkan sama teman-teman. 

 “Persoalan apa?”, kalau kau bahas sama anak- anak yang suka tidur itu kapan selesainya ?”, kata ibu seperti menyalahkanku. 
 “ Ibu, janganlah ibu berkata begitu dengan teman –temanku. Mereka tidak sekolah, mereka hanya tidur tapi kami berteman buk.” Aku butuh mereka saat- saat seperti ini. Ibu jangan khawatir, aku bisa membawa diri. Justru aku banyak nongkrong bersama mereka, karna aku ingin mereka lebih berguna hidupnya. 
Aku lebih beruntung daripada mereka. Aku bisa kuliah dan diberi apapun oleh ayah sementara mereka tidak. Aku punya fasilitas seperti laptop,print, kamera, sementara mereka tidak. Saat libur seperti ini, apakah aku harus berdiam dirumah. Makan diladeni ibu, main hape, vc sama teman kuliah saja . Waktuku terbuang sia- sia buk. Aku juga bosan dirumah, tanpa menghasilkan sesuatu. Ibu ngerti kan ?” tak sadar aku malah ceramah . 
Ibu menatapku, sedikit membias senyumnya. Jengkelnya rontok, amarahnya sirna. Dia nabok pipiku dengan tangan halusnya. “ O, yaudah mas. Ibu ngerti.” Ibu tunggu karyamu.” Jangan lupa shalat!” “ Inggih bu...” aku menggeliat, dan bermalas malasan untuk ambil wudhu shalat dzuhur.
” Segar sekali habis wudhu. Ya Rab, ijinkan aku . Aku tak perlu berkata banyak untuk Allah, karna Dia lebih tau maksud hati meminta ijin pada-Nya tentang projectku. Aku niat dan bertakbir. 
 *** 
Aku nggloso ditempat tidurku yang sedikit tidak rapi. Pandanganku fokus pada selembar kertas yang berada ditangan kananku. Satu persatu informasi dikertas itu aku cermati. Angan – anganku menerawang agak kebingungan, namun terselip ambisi. 

Bangkit, dan kuraih hape yang tergeletak miring disamping kanan meja belajarku. “Halo... Halo...! aku berulang mengucapkannya karna suara lawan bicaraku tak jelas. “Halo...bro!,” suaranya muncul, tapi lesu. Aku lega ternyata benar benar ada yang mengangkat telponku. “Ayo mulai. Dah jam satu ni.” Aku memulai pembicaraan. “Oke, setengah jam aku sampai di Lokasi “. Suara anak fakultas seni ISI itu kelihatan lebih bersemangat. Aku sedikit khawatir dengan teman –teman yang lain. Apakah mereka datang tepat waktu siang ini. Kami rencana bertemu jam dua siang untuk acara shooting sebuah film pendek. 
Semalam tidak benar jika ibu mengatakan aku begadang. Tepatnya kami sedang berdiskusi untuk project pembuatan film itu. Sebagian teman ada yang merespon baik, namun sebagiannya hanya pasif dan mendengarkan program kami saja. Entah tidak nyambung atau takut menyuarakan idenya. Yang jelas , mereka mendukung dan siap dengan job diskripsi yang aku sampaikan semalam. 
Aku berharap dengan kerja ini, hubungan pertemanan yang sejak dulu tidak harmonis antara pemuda kubu utara dan kubu selatan akan menyatu kembali. Sepertinya ketidak harmonisan tersebut dipicu oleh kegiatan kegiatan yang sifatnya individual. Beda pendapat dan saling merasa benar selalu hadir dalam diskusi diskusi kami sebelumnya. Aku merasa tertantang dan ingin mengakhiri kondisi buruk ini. Harapanku, pemuda adalah tulang punggung negeri. Jika sering berbeda paham dan bercerai berai, maka hanya akan menjadi momok bagi bangsanya sendiri. 

Hari ini tepat jam dua siang kami berkumpul ditempat yang ditentukan. Di depan balai dusun yang kecil, namun cukup untuk kami berekspresi menuangkan ide dan karya. Sepertinya program ini akan berjalan sesuai harapan. Dari satu tempat pidah ke tempat yang lain kami ambil take. Film yang kami buat berjudul Gejolak Jaran Kepang . Kostum yang kami perlukan juga lumayan banyak. Mahasiswa dari ISI sebagai peran utama sangatlah kelelahan. Badanya basah keringat, karna harus menari di bawah sinar matahari yang panas. Ditambah tugas sebagai sutradara membuat dia harus berteriak – teriak memberi komando. Bagaimana tidak lelah, semua ide berawal dari dia, sementara yang pandai menggoyangkan jaran kepang juga dia sendiri. Aku hanya mampu membantu dengan sepenuh hati. “Semangat kawan !” , aku menepuk bahunya sambil memberinya sebotol air mineral. 
Kerja keras yang luar biasa hingga shooting itu selesai keseluruhan selama tiga hari. Aku berkaca di layar hape. Rupaku sangat kusut dan lelah di hari ketiga, namun aku abaikan saja. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. 
Hari ke empat , aku mulai beraksi edit video tersebut. Aku harus benar benar kerja maksimal untuk mendapatkan gambar yang bagus dan halus. Teman – teman menungguku dengan setia , sekalipun hanya asyik nyruput kopi dan sesekali nyletuk dengan gambar dilayar laptopku. Selesailah film pendek ini aku edit dalam dua hari. Aku membuka kembali kertas yang terselip ditas untuk mendapatkan alamat email film itu akan ku kirim. Hasilnya diluar dugaanku, film kami mendapatkan apresiasi dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. Kami meraih juara dua dan mendapat uang pembinaan sebesar lima juta rupiah. 
Betapa haru biru kami merayakan kesuksesan itu. Kami saling berpelukan dan menepuk bahu lawan. Pertemanan yang hangat yang lama aku impikan. Harganya melebihi uang lima juta itu. Alhamdulillah, aku di ijinkan Allah meng-goalkan kerja ini. Tepatnya akhir bulan Mei, adalah bulan awal ekspresi dan awal cerita indah dalam aku berkarya dan berkolaborasi dengan teman-teman. 
*** 
Bulan Juni, muncul tawaran lagi untuk kami membuat film pendek lagi. Kali ini bertema Bulan Bung Karno. Judul apa yang harus kami persembahkan lagi untuk karya kedua. Gejolak Jaran Kepang yang sudah sukses kami buat, seolah menjadi moment yang harus terulang kesuksesannya. Bersama teman, kami saling memberi masukan. Semua berambisi untuk menghasilkan karya bersama yang bagus. Tidak kutemukan lagi saling menang pendapat apalagi menjatuhkan. Semua satu hati golong gilik untuk sebuah penantian karya bernilai. Kami mengambil judul Pemuda di Garda. Ruh dalam film tersebut adalah peran pemuda sebagai agent of change. Sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi agen perubahan yang bergerak dan berusaha untuk bisa ikut membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid-19. 
Tuntutan Stay at home adalah bagi mereka yang lemah dan khawatir terdampak covid. Bagi para pemuda tidak pantas jika hanya berdiam saja dirumah. Mestinya harus ada tindakan agar dia dan seluruh masyarakat di kampungnya aman dari wabah Covid 19. Di Bulan Juli, kesuksesan kembali berulang. Film itu merhasil meraih simpati dari panitia Seleksi Lomba Film Pendek. Kembali lagi kami mendapat penghargaan istimewa. 
 *** 
Agustus , bulan penuh sejarah. Kami harus sambut dengan penuh cinta dan rasa bangga terhadap negeri. Aku akan membuat ranngkaian acara yang spektakuler. Malam tirakatan 17 Agustus 2020 berjalan khidmat. Lentera kecil menghiasi balai dusun. Obor bambu para pemuda mulai dinyaakan dan dibawa keliling kampung sembari meneriakkan " merdeka" . Bambu besar dan panjang tegap berdiri, diujungya terdapat api menyala, seperti obor raksasa. Nuansa musik gamelan klasik terdengar memecah suasana malam yang gelap dan tenang. Dusun kecil yang jauh dari keramaian. Sudah satu minggu warga berbondong bondong datang ke Balai Dusun untuk menyemarakkan lomba tujuh belasan .Ada yang berniat untuk menonton saja. Protokol kesehatan juga telah disosialisasikan,namun banyak orang yang melanggar. Kerumunan dan lepas masker tak dapat di hindari. Balai dusun yang kecil telah dipadati banyak orang. Acara rutin jelang hari kemerdekaan ini seolah menjadi hal penting untuk dipikirkan dan tetap diadakan. Tak menyurutkan keberanian pemuda dusun kami, buktinya peringatan tetap terlaksana. Bahkan telah terprogram rangkaian panjang kegiatan mulai dari lomba ketangkasan anak anak ,bal balan sarung, voli layar dan juga rias pasangan telah diadakan. Dimana bumi dipijak ,disitu langit di jinjing. Tak hanya alasan itu, tapi sejatinya karna kami rindu. Rindu dengan keadaan normal yang dulu pernah kami rasakan. Kegiatan ini seolah menjadi tempat pelarian adik- adikku yang lelah belajar daring. 
Wibawa hari 17 itu membawa kami bangkit dan berkreasi. Ya Rab, ..... Negeri kami sedang sakit, maka sembuhkanlah dengan kuasaMu . *** 
Pesta kemerdekaan sudah berlalu, namun esensi kemerdekaan harus tetap hidup. Merdeka berpikir dan merdeka berpolitik tetap harus ada didada pemuda. Hal ini yang membuat ringan langkah kakiku untuk mengadu kepada ibu. Bukan ibu kandung, tapi ibu sambung. Ibu sambung diskusi yang selalu aku minta saran dan masukan jika aku dalam kebingungan dan butuh arahan . Bicaranya lirih, namun mengandung cambuk. Dia sering membakar semangatku dengan api nasihatnya. Dia ibu guru di sekolah dan guru ngajiku sejak kecil, sampai sekarang. 

 “ Buk saya mau cerita, maaf jika saya mengganggu waktu ibu.“ Aku mengawali kalimat dengan gemetaran. Tiap kali aku memulai cerita, beliau menatapku dengan tajam. 
 “ Iya nak, saya siap dengarkan ceritamu”. Jawab ibu mempersilahkan. Aku mulai mengadu panjang lebar kepada ibu tentang peristiwa siang ini. Seseorang menemuiku hendak membeli keringat dan peluh yang ku kuras dengan teman teman . Tak tanggung- tanggung. Aku ditawari uang tiga puluh juta untuk bisa membuat laporan segala bentuk kegiatan yang telah ku laksanakan bersumber dari bantuan dana tersebut. Aku dituntut untuk bisa mengantongi suara seluruh masyarakat pada satu pilihan caleg saja. Tentu saja nuraniku berontak. Kerja keras yang selama ini kubangun, ternyata akan diambil untuk atas nama satu orang caleg curang itu. 
 “ Yang sabar nak, pertahankan iman dan kejujuranmu. Tetaplah berada di jalur putih, sekalipun kamu dikatakan orang bodoh”, begitulah nasihat ibu guru padaku dengan nada halus. Tanpa arahan buguru , sebenarnya aku sudah punya pilihan untuk menolak tawaran itu. 
Aku berambisi agar masyarakat di dusunku bisa melek politik. Jangan sampai orang memandang remeh bahwa kemerdekaan memilih itu bisa dibeli dengan uang puluhan juta. Begitu pula dengan teman –temanku. Darah kami sama –sama mendidih ketika aku ceritakan perintah membuat laporan palsu itu. Kami sudah bertekad satu paham. Pemuda generasi penerus bangsa, harusnya jangan terjebak dan bisa menjadi contoh sekaligus bisa ikut memerangi gaya permainan oknum yang memanfaatkan masyarakat dengan uang, untuk kepentingan politik. Biarkanlah masyarakat memilih dengan keyakinannya, bukan karena dibeli dengan uang. Itulah curhat dan nasihat yang kuterima dari ibu siang ini. 
Aku berpamitan dan meninggalkan rumah ibu dengan badan enteng tanpa beban. Ibarat ban kempes itu sudah dipompa dan menggelinding kembali dengan ringan.
 *** 
Di kamar yang biasa kurindukan, hatiku berdialog. Masih ada PR untukmu di bulan Oktober Cahyo , Wifi internet di dusun harus segera terealisasi. Pembelajaran daring untuk adik- adik perlu di suport agar mereka bisa belajar tanpa terkendala faktor signal. Api Semangat Sumpah Pemuda seolah merasuk dalam jiwa Cahyo , pemuda kampung berstatus mahasiswa AMIKOM Yogyakarta yang tak kenal lelah membangun daerah dimana dia dilahirkan. 

Penulis 
Ari Susana, Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Bekerja sebagai guru honor sejak 2004. Diangkat menjadi PNS di SMA 1 Rongkop tahun 2009. Hobinya menulis buku harian, dan senang bergabung dengan pegiat literasi dalam penyusunan buku antologi. Menjadi seorang guru pada modernisasi yang kian melesat dengan perkembangan teknologi yang tak kalah hebat, guru harus tetap memiliki ruang tersendiri dihati para siswa. Dia mencintai siswanya dan bangga dengan profesinya. Karakter siswa itu unik dan beragam. Dia senang menulis kisah- kisahnya bersama si murid dan mengoleksi tulisannya itu di blog . Di kampungnya, dia sebagai guru ngaji. Mengobarkan semangat mengajar Al-Quran pada generasi muda seolah menjadi salah satu target hidupnya. Dia berharap, generasi penerusnya adalah generasi yang beriman, cerdas, dan penuh prestasi.

83-arisusana-blogspot.com 
Fb. Ari Susana 
IG . Bunda Queen

Rabu, 02 September 2020

Cara Ibu Menyayangiku

Sudah jam 11 malam. Jendela browsing masih terbuka dilayar laptoku . Aku sedang mencari sesuatu. Tipe ibu, topik yang mengarahkan telunjukku untuk menekan tombol search. Ku baca artikel tipe ibu tradisional yaitu ibu yang punya jiwa pengasuh. Dia bekerja keras untuk menjadi ibu yang sempurna. Selalu mengutamakan kepentingan anak dan selalu membuatkan kue – kue sendiri di rumah. Tipe ibu yang bebas, yaitu ibu yang menginginkan kemandirian untuk anaknya. Anak –anak bebas menggunakan waktunya . Dia selalu mendorong anaknya untuk berani berpendapat dan membuat keputusannya sendiri. Anak akan berkembang pribadinya. Aku merasa iri , andaikan ada yang memiliki ibu dengan tipe seperti ini. Aku masih mencari cari tipe yang persis dengan ibuku. Aku menemukan artikel berikutnya tentang satu tipe ibu mata- mata, yakni ibu yang selalu mencoba mempengaruhi anaknya. Dia selalu terlibat dalam kehidupan anak . Dia selalu ingin memperhatikan kesehatan jiwa dan raga anaknya. Namun dia sering terbentur dalam menyeimbangkan antara selalu disisinya dengan membiarkan anak membuat keputusannya sendiri. “Nah ketemu. Itulah ibuku” ,desisku lirih. Namaku Susanti. Aku seorang anak perempuan yang sudah dewasa bahkan sudah berumah tangga. Alhamdulillah aku memiliki ibu yang masih muda, cantik dan pekerja keras. Kalau bepergian , kami sering dikira kakak beradik. Dulu menurut cerita ibuku, dia dijodohkan oleh nenek ketika masih usia enam belas tahun. Sayang , sejak usia empat puluh dua tahun ibuku sudah harus menjadi janda. Ayah meninggal mendadak karena serangan jantung. Ibuku sekarang masih sendiri. Aku adalah seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas. Saat ini aku memiliki dua anak , satunya masih balita. Ibu yang mengasuhnya saat aku tinggal mengajar di sekolah. *** “Pulang sekolah nanti kita lihat pawai ya..” kata ibu ketika aku sudah menenteng tas hendak berangkat kerja. “Ya, boleh. Kita difinish saja , kemungkinan aku pulang sudah sangat sore bu “. Jelasku pada ibu. Sepulang sekolah, kamipun bergegas cepat untuk melihat pawai di jalan menuju finish. Sambil menanti pawai melintas didepanku, aku melihat seorang anak kecil digandeng oleh kakeknya juga sedang menunggu pawai yang akan lewat sebentar lagi. “Kung, ayo kung...!” panggilan si anak kepada si kakek. Tiba- tiba ibu mengajakku pergi dari tempat itu . Aku melihat ibuku berkaca, hendak mau menangis. “ Kenapa bu? “ “ Aku tidak mau melihat anak kecil itu “. “Dia bahagia sekali dengan kakeknya, sementara cucuku ....”, ibu tidak melanjutkan pembicaraannya. Aku yakin ibu teringat ayah. Berulangkali kejadian kecil seperti itu membuatku tidak siap untuk memberi solusi. Aku hanya menuruti apa permintaanya dan berusaha menenangkannya tiap kali dia teringat almarhum ayah. *** Suatu pagi, ibuku pulang belanja dari warung. Biasanya dia bersemangat untuk menunjukan suatu makanan kesukaanku yang telah dia beli, namun kali ini tidak. Ibu diam saja . Nampak ada yang dipikirkan. Aku mencoba mengartikan sikap ibu yang tiba tiba diam. Tadi sebelum kewarung masih bercakap biasa. Sekarang kok diam seribu bahasa. Saat aku dibelakang meja makan, tiba – tiba ibu memelukku sambil menangis. “Ada apa bu, ibu menangis ?” tanyaku dengan penuh selidik. “ Kalau ada yang kurang ajar sama ibu, kau harus bela ibu ya nduk...!” tangisnya makin jelas dan air matanya mengalir deras. “ Iya bu, tentu saja, aku akan membelamu. Tenanglah, ceritakan bu. Apa yang terjadi di warung tadi.” Aku duduk dan siap mendengarkan cerita ibu walaupun aku pastikan aku akan datang terlambat sampai di kantor pagi ini. Ternyata, seorang laki- laki telah menggoda ibuku. Aku mencoba mengerti apa yang dirasakan ibu. Dia merasa diremehkan jika dihadapan perempuan. Dia merasa dilecehkan jika ada laki- laki yang memandangnya . Sejak tidak ada ayah, ibu menjadi sangat sensitif. Aku harus memahami dan menghiburnya setiap saat. Kalau aku sedang capek dan banyak pikiran , sementara ibu sedang sedih aku akan berubah menjadi orang lain yang ceria, aku harus jadi super hero bagi hati ibu yang lemah. Aku akan abaikan perasaanku asalkan ibu kembali tersenyum. Ibu pernah bilang tidak ingin menikah lagi. Aku buru- buru menahan ucapannya dan menyuruh ibu untuk mencabut kata- kata itu. “Serahkan pada Allah saja. Jika masih diberi jodoh , ibu terima saja .” Begitulah nasihatku kepada ibu. *** Delapan tahun kepergian ayah,Pikiran ibu seolah sudah bangkit. Tidak menyangka ibu mengenalkan seorang laki- laki padaku. “Dimana ibu mengenalnya ?”, hatiku berbisik. Ibu menceritakan bahwa ternyata dia menolong ibu saat ibu membawa sepeda motorku dan terjatuh di jalan. Sejak ibu mengenalkan laki laki calon ayahku itu, aku menjadi tempramental. Bawaannya pengen marah terus. Seolah-olah aku tidak siap dan tidak mau menerima kenyataan bahwa akan ada cerita baru , wajah asing, pakaian asing dan banyak hal akan mengganggu kenangan almarhum ayah dirumahku. Bagaimanapun juga Allah telah mempertemukan ibu dengan jodohnya. Aku kembali luluh dan mengabaikan perasaanku. Aku siapkan kebaya baru untuk akad nikah ibuku. Warnanya putih tulang, dan agak kebesaran dibadan ibu. Ibu kelihatan bahagia memakainya . Akad nikah berlangsung khidmat, walaupun hatiku tidak bisa ku ceritakan rasanya. Aku harus bersikap bijaksana dan dewasa. Ibu butuh seseorang untuk teman di masa tuanya. *** Aku mulai membuat pondasi rumah , dibelakang rumah ibuku. Dengan tabungan dan uang pinjaman dari bank , aku berhasil membangun rumah sendiri dengan suamiku. Aku bermaksud meminta ijin kepada ibu untuk pindah ke rumah baru itu. “Bu, aku tak pindah rumah baru yaa...”, pintaku pada ibu. “ Ya, boleh saja. Nggak usah bawa perabot apalagi mau masak sendiri”. Pesan ibu itu sudah membatasi ekspresiku mau menempati rumah baru. “Kamu itu nggak usah beli perabot masak. Beli saja kasur, tivi, kulkas atau yang lain.” Apa maksud ibu, heran aku. Meskinya beliau bangga aku akan berlatih mandiri. Ibu selalu mendikte apa yang harus aku lakukan. Suatu ketika ibu menengok paman yang sakit di Jakarta. Aku tinggal sendiri saja dirumah. Bersama anak dan suami saja dirumah sangat sepi. Biasanya pulang kerja aku langsung disuguhi makanan oleh ibu. Anak- anakku yang kesepian juga mulai menanyakan kakungnya. Biasanya bapak yang asuh anak anakku saat aku mengajar. Anak –anak seharian rewel, dapur tidak terurus dan badanku sangat letih. Aku mencoba merebahkan badanku di kasur. Kalu ibu tidak memaksaku untuk membeli kasur ini, pastilah aku belum punya sekarang. Sejenak mataku memandang sekeliling. Ada tivi, kulkas, almari dan meja makan. Semua itu ibu yang suruh membeli, sekalipun aku tidak menghendaki. Hampir aku tak pernah ada kesempatan untuk jalan- jalan atau membeli barang kesukaanku. “ Halo, assalamu’alaikum ...” Suara ibu terdengar di telpon. “ Wa’alaikum salam,” kapan pulang bu?? Aku sudah sangat lelah. “ He..he..he,,” Suara tertawa ibu seperti bahagia meliahat aku keteteran dirumah ngurus rumah dan ngurus anak. Satu minggu ditinggal ibu, rasanya seperti setahun . Aku seperti tanpa arah. Semua urusanku tidak bisa beres. Malam ini anak anak sudah tidur lebih awal. Aku merenung dan mengevaluasi diri. Selama ini aku berpikir salah tentang ibu dan bapak. Seketika air mataku menetes. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku selalu protes dengan apa yang di inginkan ibu, padahal aku tanpa ibu tidak bisa hidup bahagia seperti sekarang ini. Muncul juga rasa bersalahku terhadap bapak. Beliau begitu tulus tanpa pamrih menyayangi ibu dan anak –anakku. Ibu benar benar pandai memilih jodoh. Bukan hanya untuk ibu sendiri, tapi bapak adalah sosok yang bisa menerima anak anak sambungnya dengan ikhlas . Hanya pena yang menjadi teman dan pendengar ceritaku . Kutulis surat untuk ibu agar ibu tahu aku sangat menyayanginya. Bismillahirrahmaanirrahiim Teruntuk Ibu, Doa ku mengawali surat ini, semoga ibu diberikan oleh Allah kesehatan, panjang umur dan bahagia. Bu, aku sangat menyayangi ibu bahkan karna sayangku sama ibu aku tidak bisa memprotes atau mengeluh atas sikap sikap ibu terhadapku. Barangkali surat ini membuatku berani untuk menyampaikannya kepada ibu. Bu, ibu itu sering membuatku jengkel. Terutama saat ibu bersalah tapi ibu tidak mau mengakui kesalahan. Ibu itu anti kritik, sampai sampai aku menyerah saat ingin menyampaikan pendapat jika ibu sudah kukuh pada keputusan tertentu. Aku lebih aman diam . Ibu, aku tahu bagaimana dosanya jika aku sampai melawanmu. Bilang “ah “ saja sudah berdosa, apalagi sampai menyimpan ganjelan mangkel seperti aku ini. Ibu, aku takut durhaka padamu. Janganlah sekali kali mendoakan aku dengan keburukan ya bu, karena pasti akan aku terima azab buruk itu. Aku juga takut masuk neraka bu...., Ibu, jika aku membaca kisah para sahabat nabi yang mencintai ibunya dalam kisah Uwais Al Qarny misalnya. Dia menggendong ibunya sepanjang waktu, dia rela tidak menikah, dan rela tidak bekerja hanya untuk merawat ibunya yang sudah renta. Lalu bagaimana aku ini bu....? Aku malah selalu merepotkan ibu, dan bahkan sering membuat ibu marah. Bu, aku ini sudah kau sarjanakan dan kau doakan jadi guru . Saat aku melamar formasi PNS itu, ibu selalu berpuasa untuk mendoakan agar aku diterima. Ibu selalu shalat tahajud agar aku bisa lolos seleksi PNS itu ya bu. Ternyata benar bu, berkat doamu aku bisa menjadi guru PNS seperti sekarang ini. Dengan cepat pula aku dapat sertifikat guru profesional. Kau pernah menceritakan bahwa aku ini lahir sungsang .Satu minggu jelang kelahiranku membuat ibu kesakitan. Setelah itu masa kecilku dipenuhi dengan penyakit. Aku tidak mau di imunisasi, ibu bilang kalau habis imunisasi aku selalu kejang kejang. Kalau aku sakit ibu membawaku ke dokter dengan berjalan kaki dan menggendongku gendeyotan ,waktu itu belum ada motor. Orang biasa menaiki tebing pinggir sungai sebelah timur kampung kami untuk jalur akses ke pasar, ke puskesmas, atau ke dokter praktik. Waktu aku usia 6 tahun, aku jatuh dari sepeda .Kakiku tertancap pedal yang sudah gundul. Kakiku bolong dan harus dijahit. Aku tidak bisa jalan selama dua bulan. Tiap malam aku minta digendong untuk mengurangi rasa sakit itu. Dan banyak pengorbananmu yang tidak aku ketahui. Maafkan aku ibu, aku berjanji akan merawat dan menyayangimu selamanya. Salam sayang dan hormat anakmu Susanti Setelah kutulis surat itu, lega rasanya dadaku. Aku mulai mengantuk dan memejamkan mata. Ari Susana, Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Bekerja sebagai guru honor sejak 2004. Diangkat menjadi PNS di SMA 1 Rongkop tahun 2009. Hobinya menulis buku harian, dan senang bergabung dengan pegiat literasi dalam penyusunan buku antologi. Menjadi seorang guru pada modernisasi yang kian melesat dengan perkembangan teknologi yang tak kalah hebat, guru harus tetap memiliki ruang tersendiri dihati para siswa. Dia mencintai siswanya dan bangga dengan profesinya. Karakter siswa itu unik dan beragam. Dia senang menulis kisah- kisahnya bersama si murid dan mengoleksi tulisannya itu di blog . Pengalaman berharga selama mengajar, dia gunakan untuk terus memperbaiki diri dalam mengajar dan memoles karakter karakter hebat para siswanya. 83-arisusana-blogspot.com Fb. Ari Susana IG . Bunda Queen