Cahyo , orang memanggilku. Aku pandang fotoku dipost oleh teman di media sosial. Baru sadar kalau ternyata aku lebih tinggi daripada teman- temanku. Ih,kulitku juga putih.Dengan Rambut gondrong sebahu, aku tampak lebih staylist, tapi kalau dari belakang rambutku mirip dengan ibu. Cuek sajalah, keren. Senyumku tak bisa kusembunyikan, walaupun sebenarnya aku malu ketahuan oleh ibu.
“Kenapa mas ?” tanya ibu.
“ mboten nopo –nopo kok buk, “ aduh malunya aku. Segera kuhampiri gelas dimeja untuk membuang salting di depan ibu.
“ Mas, ibu mau ngomong sama kamu, mbok jangan sering nongkrong untuk hal tak berguna to mas, “ . Jangan karna libur covid kamu seenaknya begadang tiap malam. Kuliahmu piye..?”
Ibu duduk disebelahku, sesekali bibir ibu manyun tandanya protes dengan polahku belakangan ini. Ibuku sangat cantik.
Bersyukur aku jadi anaknya, setidaknya aku bisa berwajah tampan dan berkulit putih seperti ibu. Kembali aku tersenyum agak mringis, bukan pembicaraan ibu yang ku pikirkan, tapi aku malah mencari- cari kemiripanku dengan ibu.
“ Mas...!”, ibu serius.” Nada ibu menaik.
“ Gih buk, aku dengar. Memangnya tidak boleh aku begadang. “ Aku kan sudah besar buk, aku begadang karna ada persoalan yang harus diomongkan sama teman-teman.
“Persoalan apa?”, kalau kau bahas sama anak- anak yang suka tidur itu kapan selesainya ?”, kata ibu seperti menyalahkanku.
“ Ibu, janganlah ibu berkata begitu dengan teman –temanku. Mereka tidak sekolah, mereka hanya tidur tapi kami berteman buk.” Aku butuh mereka saat- saat seperti ini. Ibu jangan khawatir, aku bisa membawa diri. Justru aku banyak nongkrong bersama mereka, karna aku ingin mereka lebih berguna hidupnya.
Aku lebih beruntung daripada mereka. Aku bisa kuliah dan diberi apapun oleh ayah sementara mereka tidak. Aku punya fasilitas seperti laptop,print, kamera, sementara mereka tidak. Saat libur seperti ini, apakah aku harus berdiam dirumah. Makan diladeni ibu, main hape, vc sama teman kuliah saja . Waktuku terbuang sia- sia buk. Aku juga bosan dirumah, tanpa menghasilkan sesuatu. Ibu ngerti kan ?” tak sadar aku malah ceramah .
Ibu menatapku, sedikit membias senyumnya. Jengkelnya rontok, amarahnya sirna. Dia nabok pipiku dengan tangan halusnya.
“ O, yaudah mas. Ibu ngerti.” Ibu tunggu karyamu.” Jangan lupa shalat!”
“ Inggih bu...” aku menggeliat, dan bermalas malasan untuk ambil wudhu shalat dzuhur.
”
Segar sekali habis wudhu. Ya Rab, ijinkan aku . Aku tak perlu berkata banyak untuk Allah, karna Dia lebih tau maksud hati meminta ijin pada-Nya tentang projectku. Aku niat dan bertakbir.
***
Aku nggloso ditempat tidurku yang sedikit tidak rapi. Pandanganku fokus pada selembar kertas yang berada ditangan kananku. Satu persatu informasi dikertas itu aku cermati. Angan – anganku menerawang agak kebingungan, namun terselip ambisi.
Bangkit, dan kuraih hape yang tergeletak miring disamping kanan meja belajarku.
“Halo... Halo...! aku berulang mengucapkannya karna suara lawan bicaraku tak jelas.
“Halo...bro!,” suaranya muncul, tapi lesu. Aku lega ternyata benar benar ada yang mengangkat telponku.
“Ayo mulai. Dah jam satu ni.” Aku memulai pembicaraan.
“Oke, setengah jam aku sampai di Lokasi “. Suara anak fakultas seni ISI itu kelihatan lebih bersemangat. Aku sedikit khawatir dengan teman –teman yang lain. Apakah mereka datang tepat waktu siang ini. Kami rencana bertemu jam dua siang untuk acara shooting sebuah film pendek.
Semalam tidak benar jika ibu mengatakan aku begadang. Tepatnya kami sedang berdiskusi untuk project pembuatan film itu. Sebagian teman ada yang merespon baik, namun sebagiannya hanya pasif dan mendengarkan program kami saja. Entah tidak nyambung atau takut menyuarakan idenya. Yang jelas , mereka mendukung dan siap dengan job diskripsi yang aku sampaikan semalam.
Aku berharap dengan kerja ini, hubungan pertemanan yang sejak dulu tidak harmonis antara pemuda kubu utara dan kubu selatan akan menyatu kembali. Sepertinya ketidak harmonisan tersebut dipicu oleh kegiatan kegiatan yang sifatnya individual. Beda pendapat dan saling merasa benar selalu hadir dalam diskusi diskusi kami sebelumnya. Aku merasa tertantang dan ingin mengakhiri kondisi buruk ini. Harapanku, pemuda adalah tulang punggung negeri. Jika sering berbeda paham dan bercerai berai, maka hanya akan menjadi momok bagi bangsanya sendiri.
Hari ini tepat jam dua siang kami berkumpul ditempat yang ditentukan. Di depan balai dusun yang kecil, namun cukup untuk kami berekspresi menuangkan ide dan karya. Sepertinya program ini akan berjalan sesuai harapan. Dari satu tempat pidah ke tempat yang lain kami ambil take. Film yang kami buat berjudul Gejolak Jaran Kepang . Kostum yang kami perlukan juga lumayan banyak. Mahasiswa dari ISI sebagai peran utama sangatlah kelelahan. Badanya basah keringat, karna harus menari di bawah sinar matahari yang panas. Ditambah tugas sebagai sutradara membuat dia harus berteriak – teriak memberi komando. Bagaimana tidak lelah, semua ide berawal dari dia, sementara yang pandai menggoyangkan jaran kepang juga dia sendiri. Aku hanya mampu membantu dengan sepenuh hati.
“Semangat kawan !” , aku menepuk bahunya sambil memberinya sebotol air mineral.
Kerja keras yang luar biasa hingga shooting itu selesai keseluruhan selama tiga hari. Aku berkaca di layar hape. Rupaku sangat kusut dan lelah di hari ketiga, namun aku abaikan saja. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.
Hari ke empat , aku mulai beraksi edit video tersebut. Aku harus benar benar kerja maksimal untuk mendapatkan gambar yang bagus dan halus. Teman – teman menungguku dengan setia , sekalipun hanya asyik nyruput kopi dan sesekali nyletuk dengan gambar dilayar laptopku. Selesailah film pendek ini aku edit dalam dua hari. Aku membuka kembali kertas yang terselip ditas untuk mendapatkan alamat email film itu akan ku kirim. Hasilnya diluar dugaanku, film kami mendapatkan apresiasi dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. Kami meraih juara dua dan mendapat uang pembinaan sebesar lima juta rupiah.
Betapa haru biru kami merayakan kesuksesan itu. Kami saling berpelukan dan menepuk bahu lawan. Pertemanan yang hangat yang lama aku impikan. Harganya melebihi uang lima juta itu. Alhamdulillah, aku di ijinkan Allah meng-goalkan kerja ini. Tepatnya akhir bulan Mei, adalah bulan awal ekspresi dan awal cerita indah dalam aku berkarya dan berkolaborasi dengan teman-teman.
***
Bulan Juni, muncul tawaran lagi untuk kami membuat film pendek lagi. Kali ini bertema Bulan Bung Karno. Judul apa yang harus kami persembahkan lagi untuk karya kedua. Gejolak Jaran Kepang yang sudah sukses kami buat, seolah menjadi moment yang harus terulang kesuksesannya. Bersama teman, kami saling memberi masukan. Semua berambisi untuk menghasilkan karya bersama yang bagus. Tidak kutemukan lagi saling menang pendapat apalagi menjatuhkan. Semua satu hati golong gilik untuk sebuah penantian karya bernilai. Kami mengambil judul Pemuda di Garda. Ruh dalam film tersebut adalah peran pemuda sebagai agent of change. Sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi agen perubahan yang bergerak dan berusaha untuk bisa ikut membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid-19.
Tuntutan Stay at home adalah bagi mereka yang lemah dan khawatir terdampak covid. Bagi para pemuda tidak pantas jika hanya berdiam saja dirumah. Mestinya harus ada tindakan agar dia dan seluruh masyarakat di kampungnya aman dari wabah Covid 19. Di Bulan Juli, kesuksesan kembali berulang. Film itu merhasil meraih simpati dari panitia Seleksi Lomba Film Pendek. Kembali lagi kami mendapat penghargaan istimewa.
***
Agustus , bulan penuh sejarah. Kami harus sambut dengan penuh cinta dan rasa bangga terhadap negeri. Aku akan membuat ranngkaian acara yang spektakuler.
Malam tirakatan 17 Agustus 2020 berjalan khidmat. Lentera kecil menghiasi balai dusun. Obor bambu para pemuda mulai dinyaakan dan dibawa keliling kampung sembari meneriakkan " merdeka" . Bambu besar dan panjang tegap berdiri, diujungya terdapat api menyala, seperti obor raksasa. Nuansa musik gamelan klasik terdengar memecah suasana malam yang gelap dan tenang. Dusun kecil yang jauh dari keramaian. Sudah satu minggu warga berbondong bondong datang ke Balai Dusun untuk menyemarakkan lomba tujuh belasan .Ada yang berniat untuk menonton saja. Protokol kesehatan juga telah disosialisasikan,namun banyak orang yang melanggar. Kerumunan dan lepas masker tak dapat di hindari. Balai dusun yang kecil telah dipadati banyak orang. Acara rutin jelang hari kemerdekaan ini seolah menjadi hal penting untuk dipikirkan dan tetap diadakan. Tak menyurutkan keberanian pemuda dusun kami, buktinya peringatan tetap terlaksana. Bahkan telah terprogram rangkaian panjang kegiatan mulai dari lomba ketangkasan anak anak ,bal balan sarung, voli layar dan juga rias pasangan telah diadakan. Dimana bumi dipijak ,disitu langit di jinjing. Tak hanya alasan itu, tapi sejatinya karna kami rindu. Rindu dengan keadaan normal yang dulu pernah kami rasakan. Kegiatan ini seolah menjadi tempat pelarian adik- adikku yang lelah belajar daring.
Wibawa hari 17 itu membawa kami bangkit dan berkreasi. Ya Rab, ..... Negeri kami sedang sakit, maka sembuhkanlah dengan kuasaMu .
***
Pesta kemerdekaan sudah berlalu, namun esensi kemerdekaan harus tetap hidup. Merdeka berpikir dan merdeka berpolitik tetap harus ada didada pemuda. Hal ini yang membuat ringan langkah kakiku untuk mengadu kepada ibu. Bukan ibu kandung, tapi ibu sambung. Ibu sambung diskusi yang selalu aku minta saran dan masukan jika aku dalam kebingungan dan butuh arahan . Bicaranya lirih, namun mengandung cambuk. Dia sering membakar semangatku dengan api nasihatnya. Dia ibu guru di sekolah dan guru ngajiku sejak kecil, sampai sekarang.
“ Buk saya mau cerita, maaf jika saya mengganggu waktu ibu.“ Aku mengawali kalimat dengan gemetaran. Tiap kali aku memulai cerita, beliau menatapku dengan tajam.
“ Iya nak, saya siap dengarkan ceritamu”. Jawab ibu mempersilahkan.
Aku mulai mengadu panjang lebar kepada ibu tentang peristiwa siang ini. Seseorang menemuiku hendak membeli keringat dan peluh yang ku kuras dengan teman teman . Tak tanggung- tanggung. Aku ditawari uang tiga puluh juta untuk bisa membuat laporan segala bentuk kegiatan yang telah ku laksanakan bersumber dari bantuan dana tersebut. Aku dituntut untuk bisa mengantongi suara seluruh masyarakat pada satu pilihan caleg saja. Tentu saja nuraniku berontak. Kerja keras yang selama ini kubangun, ternyata akan diambil untuk atas nama satu orang caleg curang itu.
“ Yang sabar nak, pertahankan iman dan kejujuranmu. Tetaplah berada di jalur putih, sekalipun kamu dikatakan orang bodoh”, begitulah nasihat ibu guru padaku dengan nada halus.
Tanpa arahan buguru , sebenarnya aku sudah punya pilihan untuk menolak tawaran itu.
Aku berambisi agar masyarakat di dusunku bisa melek politik. Jangan sampai orang memandang remeh bahwa kemerdekaan memilih itu bisa dibeli dengan uang puluhan juta. Begitu pula dengan teman –temanku. Darah kami sama –sama mendidih ketika aku ceritakan perintah membuat laporan palsu itu. Kami sudah bertekad satu paham. Pemuda generasi penerus bangsa, harusnya jangan terjebak dan bisa menjadi contoh sekaligus bisa ikut memerangi gaya permainan oknum yang memanfaatkan masyarakat dengan uang, untuk kepentingan politik. Biarkanlah masyarakat memilih dengan keyakinannya, bukan karena dibeli dengan uang.
Itulah curhat dan nasihat yang kuterima dari ibu siang ini.
Aku berpamitan dan meninggalkan rumah ibu dengan badan enteng tanpa beban. Ibarat ban kempes itu sudah dipompa dan menggelinding kembali dengan ringan.
***
Di kamar yang biasa kurindukan, hatiku berdialog. Masih ada PR untukmu di bulan Oktober Cahyo , Wifi internet di dusun harus segera terealisasi. Pembelajaran daring untuk adik- adik perlu di suport agar mereka bisa belajar tanpa terkendala faktor signal.
Api Semangat Sumpah Pemuda seolah merasuk dalam jiwa Cahyo , pemuda kampung berstatus mahasiswa AMIKOM Yogyakarta yang tak kenal lelah membangun daerah dimana dia dilahirkan.
Penulis
Ari Susana, Lahir di Gunungkidul 28 Oktober 1983. Bekerja sebagai guru honor sejak 2004. Diangkat menjadi PNS di SMA 1 Rongkop tahun 2009. Hobinya menulis buku harian, dan senang bergabung dengan pegiat literasi dalam penyusunan buku antologi. Menjadi seorang guru pada modernisasi yang kian melesat dengan perkembangan teknologi yang tak kalah hebat, guru harus tetap memiliki ruang tersendiri dihati para siswa. Dia mencintai siswanya dan bangga dengan profesinya. Karakter siswa itu unik dan beragam. Dia senang menulis kisah- kisahnya bersama si murid dan mengoleksi tulisannya itu di blog . Di kampungnya, dia sebagai guru ngaji. Mengobarkan semangat mengajar Al-Quran pada generasi muda seolah menjadi salah satu target hidupnya. Dia berharap, generasi penerusnya adalah generasi yang beriman, cerdas, dan penuh prestasi.
83-arisusana-blogspot.com
Fb. Ari Susana
IG . Bunda Queen