"Laut yang tenang tidak akan pernah menghasilkan nahkoda yang mahir." Masih ingat saat kita belajar di SD atau SMP dulu. Sekitar tahun1990an . Model pembelajaran dengan guru sebagai Pusat Pengetahuan (Teacher-Centered) . Dalam model ini, guru berperan sebagai sumber pengetahuan utama yang memberikan informasi yang mendalam dan komprehensif kepada siswa. Hal ini membantu siswa mendapatkan pemahaman yang kuat tentang konsep-konsep yang diajarkan. Model pembelajaran zaman dulu fokus pada pembelajaran akademik dengan mengutamakan materi pelajaran yang diajarkan. Hal ini memastikan bahwa siswa mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk sukses di dunia pendidikan dan profesional. Dalam model ini, siswa diajarkan tata tertib, kedisiplinan, dan menghormati otoritas guru. Ini membantu menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar dengan baik dan menjaga kualitas pendidikan di dalam kelas. Meskipun memiliki kelebihan, model pembelajaran zaman dulu juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan, seperti siswa lebih banyak menjadi penerima informasi dari guru. Hal ini bisa membuat siswa menjadi pasif dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Keterlibatan aktif siswa sangat penting untuk mempercepat pemahaman dan penguasaan konsep yang diajarkan. Model pembelajaran zaman dulu tidak mengakomodasi kemajuan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran modern. Teknologi seperti komputer, internet, dan perangkat mobile dapat membantu siswa mengakses informasi dengan lebih cepat dan efisien. Kurangnya interaksi dan kolaborasi antar siswa dapat mengurangi kemampuan mereka untuk bekerja dalam tim dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan dalam lingkungan kerja. Meskipun banyak perkembangan dalam dunia pendidikan, beberapa prinsip dasar dari model pembelajaran zaman dulu masih relevan. Namun, ada juga beberapa bagian dari model tersebut yang harus disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan pendidikan saat ini.
Sekarang jamannya belajar kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah proses pendidikan yang digunakan untuk menolong anak didik dalam melihat makna suatu pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya. Cara yang dipakai adalah dengan menghubungkan subjek-subjek akademik untuk dipelajari dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.(Elaine B. Johnson).
Dari sinilah , kami mencoba menginterprestasikan pembelajaran kontekstual dalam sebuah project "Edu Care " . Edukasi (Edu ) berasal dari bahasa Latin “educatio” yang berarti proses mengajar atau mendidik. Dalam konteks yang lebih luas, edukasi mencakup seluruh proses pembelajaran yang menciptakan pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan baik pada individu. Kata "care" dalam bahasa Inggris memiliki beberapa makna, tergantung konteksnya. Secara umum, care arti adalah perhatian, kepedulian, atau perawatan. Nah , jika dimaknai maka projek educare ini artinya mendidik dengan penuh perhatian dan kepedulian. Siapa yang mendidik ? ya siswa SMA N 1 Rongkop. Siapa yang dapat perhatian dan kepedulian ? siswa SD sebelah, yaitu SD Kerdonmiri II.
Dalam project ini , guru sebagai fasilitator menugaskan kepada siswa untuk menjadi desainer sebuah acara mendidik dan peduli kepada adik adiknya yang masih belajar di SD. Siswa SMA dikumpulkan dalam satu ruangan besar , mereka di minta menyampaikan ide dan pendapat ,membuat sebuah acara yang menarik dan cocok . Kemudian mereka mempersiapkan rundown acara , dan mempersiapkan tempat serta alat dan bahan yang dibutuhkan.
Dalam project ini , guru sebagai fasilitator menugaskan kepada siswa untuk menjadi desainer sebuah acara mendidik dan peduli kepada adik adiknya yang masih belajar di SD. Siswa SMA dikumpulkan dalam satu ruangan besar , mereka di minta menyampaikan ide dan pendapat ,membuat sebuah acara yang menarik dan cocok . Kemudian mereka mempersiapkan rundown acara , dan mempersiapkan tempat serta alat dan bahan yang dibutuhkan.
Di hari yang dijadwalkan , siswa SMA menjemput siswa SD ke sekolah mereka .
Siswa datang disambut oleh sebagian siswa SMA yang lain .
Siswa SD dikumpulkan dalam satu ruangan . Acara diawali dengan pembukaan, sapaan hangat dan diberi edukasi tentang 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Acara dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan sekolah, senam anak Indonesia hebat dan bermacam macam lomba dan game. Semua siswa SMA diberi tugas dan tanggung jawab masing masing bidang. Mereka merancang juknis dan teknis permainan dan lomba yang ditugaskan kepada kelompoknya. Disini anak SMA belajar mengeluarkan pemikiran dan tenaganya (kritis dan inovatif ).
Keberanian menghadapi kesulitan akan melahirkan keahlian.
