Rabu, 23 Februari 2022

Lagi - Lagi Sejarah

Masjid Agung Cordoba sekarang menjadi katedral.

Ketika kekhalifahan Islam menaklukkan wilayah baru, sang khalifah memberikan keleluasaan kepada penduduk setempat untuk melaksanakan keyakinan agamanya. Penganut Kristiani dijamin kebebasannya beribadah di gereja. Dan, penganut Yahudi bebas bersembahyang di sinagog. Namun demikian, ada pula tempat ibadah umat tersebut yang kemudian dialihfungsikan menjadi masjid dengan persetujuan para tokoh agama. Khalifah Abdul Malik dari Dinasti Umayyah melakukan alih fungsi gereja Santo Yohannes pada 705 M.

Pun demikan dengan kebijakan Kekhalifahan Utsmaniyah. Gereja Ayasofia yang terkenal dengan kemegahan dan keindahannya itu, dialihfungsikan menjadi masjid setelah kejatuhan Kota Konstantinopel pada 1453 oleh Muhammad Al-Fatih. Sebaliknya, alih fungsi masjid menjadi gereja juga terjadi dalam sejarah persinggungan politik antara Islam dan Kristen. Pascakejatuhan kekhalifahan Islam di Andalusia, Masjid Agung Cordoba diubah fungsinya menjadi gereja dengan nama La Mezquita.

Bangunan-bangunan masjid indah peninggalan umat Islam di Spanyol terdapat di Kota Cordoba, Sevilla, Toledo, dan Granada. Masjid Raya Sevilla yang didirikan pada 1171 M oleh Sultan Abu Ya'kub Yusuf bin Abdul Mun'im dari Dinasti Muwahhidun, telah diubah menjadi gereja dengan nama Santa Maria de la Sede. Sementara itu, masjid-masjid di Kota Toledo juga bernasib sama. Masjid-masjid di kota itu telah menjelma menjadi gereja Santo Cristo de la Luz, gereja Santa Maria, gereja Santa Maria de Torenzito, dan gereja Santo Tome. Sedangkan di Kota Granada, Istana Alhamra yang di dalamnya terdapat Masjid al-Mulk dan Masjid Sultan telah menjadi milik penuh pemerintah Spanyol setelah Granada ditaklukkan oleh Raja Ferdinand II tahun 1492. Dari sekian banyak masjid yang tersebar di bumi Spanyol, Masjid Cordoba merupakan yang terbesar dan termegah. Masjid ini berdiri di lokasi bekas kuil penyembahan Dewa Janus di masa Romawi dan bekas Gereja Santo Vincent ketika bangsa Jerman menguasai Hispania. Ada pendapat yang menyatakan bahwa gereja tersebut sudah runtuh saat masjid mulai dibangun. Ada pula yang menyatakan gereja tersebut memang sengaja dibongkar.

Masjid Agung Cordoba berdiri atas inisiatif Abdurrahman ad-Dakhil atau Khalifah Abdurrahman I (756-788 M) pada 785 M. Sang Khalifah mendatangkan batu pualam dari Narbonne, Sevilla, dan Konstantinopel. Luas masjid mula-mula hanya 70 meter persegi di atas tanah seluas 5.000 meter. Proses penyempurnaan pembangunannya memerlukan waktu hingga dua abad. Perbaikan dan perluasan terus dilakukan oleh khalifah-khalifah setelah Abdurrahman I. Bangunan utama masjid dan menara diselesaikan oleh Khalifah Hisyam I, putra Abdurrahman I, yang menduduki tahta kekhalifahan tahun 788 hingga 796 M.

Khalifah Hisyam I digantikan oleh al-Hakam I. Sesaat setelah menduduki kursi kekhalifahan, ia memerintahkan untuk membangun dua serambi besar di bagian arah kiblat, dan selesai pada 796 M. Selanjutnya, Khalifah Abdurrahman II (822-852 M) menambah sebuah ruangan besar dan tiang yang bergaya hypostyle hingga berjumlah 200 tiang. Pelaksanaan konstruksi pada 832 hingga 848 M itu juga mengagendakan untuk menggeser arah mihrab sedikit ke arah tenggara sehingga tepat menghadap ke arah Ka'bah. Sebelumnya, mihrab Masjid Cordoba menghadap ke arah selatan. Beberapa sejarawan berusaha menjelaskan latar belakang arah mihrab yang cukup nyeleneh itu. Ada yang berpendapat, Abdurrahman I dalam menentukan arah kiblat berpedoman pada konstruksi Visigoth, yaitu bangunan yang dibangun oleh Kerajaan Visigoth di Spanyol sebelum kedatangan Islam. Pendapat lain berpandangan bahwa ketika itu Abdurrahman I membayangkan dirinya masih berada di Damaskus. Sehingga, arah kiblat masjid disamakan dengan masjid-masjid di kota bekas pusat Dinasti Umayyah tersebut. Beberapa tahun kemudian, Khalifah Abdullah yang naik tahta pada 888 M, membangun arcade (lori-lori) beratap lengkung yang menghubungkan istana dengan mihrab. Sejak saat itu, terdapat 32 lorong dan sebuah mihrab di bawah atap kubah berbentuk segi delapan.

Pada masa khalifah Abdurrahman III (912-961 M), menara yang dahulu dibangun oleh Khalifah Hisyam I diganti dengan menara baru berbentuk segi empat setinggi 34 meter. Pembangunan menara tersebut di bawah pengawasan al-Muntasir, seorang ahli mosaik dari Constantinopel, sekarang Istanbul Turki. Di samping itu, sang khalifah juga memperluas aula pada sektor barat daya. Khalifah al-Hakam II (961-976 M) tercatat sebagai inisiator penyempurnaan yang terakhir. Ia menyempurnakan arsitektur masjid dengan memberikan sentuhan monumental, dengan mengubah bentuk ruang shalat di depan mihrab dari ruang terbuka biasa menjadi satu lajur yang membujur. Lebarnya 70 meter dan panjangnya 115 meter dengan jumlah 320 tiang.

Setelah dua abad mengalami perbaikan dan perluasan, jadilah Masjid Cordoba salah satu masterpiece arsitektur klasik Islam terbesar di daratan Eropa. Panjang masjid dari utara sampai selatan sepanjang 175 meter dan lebarnya dari timur ke barat 134 meter. Sedangkan, tingginya mencapai 20 meter. Dahulu masjid ini mampu menampung sebanyak 80.000 jamaah.

Hutan tiang

Ketika seorang pengunjung memasuki Masjid Cordoba, ia seolah masuk ke dalam hutan tiang berukuran besar dan kecil, berjumlah 1.293 buah terbuat dari marmer. Tiang-tiang itu berbaris rapi laksana pepohonan. Pesona tiang-tiang itu terpancar lewat cahaya yang menerpanya. Seolah ada yang bergetar ketika cahaya membias tiang-tiang yang berbentuk melengkung itu. Sebanyak 20 tiang berdiri di dalam tiap-tiap ruangan yang berjumlah sebelas dengan atap berbentuk melengkung. Masing-masing ruangan itu dipisahkan dengan lengkungan-lengkungan atap. Akan tetapi, tidak seluruh bangunan masjid diberikan atap. Ada bagian-bagian tertentu yang dibiarkan terbuka agar cahaya dan udara segar bisa masuk ke dalam masjid.

Dekorasi ruangan yang paling istimewa terdapat di ruang mihrab. Lubang-lubang hiasan diletakkan pada ruangan kecil berbentuk segi delapan. Motif dekorasi pada lengkungan-lengkungan di sekitar mihrab tampak konsisten menampilkan stilisasi tanaman dan buah-buahan dalam berbagai kombinasi warna yang berbeda-beda: emas, biru, dan merah. Keindahan ini digambarkan Zia Pasha, sejarawan asal Turki, sebagai mukjizat yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh akal manusia. ''Ia adalah mukjizat zaman yang belum tergambar dalam benak pembangunan mana pun sejak dunia ada. Juga, belum pernah terbetik dalam akal segala insinyur semenjak akal itu diciptakan,'' katanya seperti dikutip dalam Ensiklopedi Islam.

Pada 1765, seorang utusan Sultan Maroko bernama Algazal Al-Fasi berkunjung ke Spanyol atas undangan Raja Spanyol Carlos III. Pada saat itu, al-Fasi berkesempatan mengunjungi Masjid Agung Cordoba seraya membuat catatan pribadi, ''Dahulu masjid itu adalah masjid terbesar di dunia. Panjangnya, lebarnya, dan tingginya melampaui semua bangunan di dunia. Melihat kebesarannya, mengingatkan kembali kejayaan Islam masa lalu, yaitu masa berkembangnya ilmu pengetahuan dan masa ketika ayat-ayat Allah dikumandangkan.''

Kamis, 17 Februari 2022

Renungan sebelum mengajar Sejarah

KEJAYAAN ANDALUSIA (Refleksi Perjalanan di Tanah Andalusia, Spanyol) Oleh: Yogo Risnandri 6 Desember 2019;

Beberapa abad silam, saat Umat Islam berada pada masa-masa kejayaannya, ada seorang khalifah nan mashur Umar Ibn Abdul Azis berkata, “Bilamana ada orang yang sanggup berjalan dari Sana’a (Ibu Kota Yaman) menuju Darul Baidho (Ibu Kota Maroko di Afrika Utara) untuk mencari orang-orang fakir miskin yang kesusahan, niscaya mereka tidak akan menemukannya,” ungkapnya.

Begitu hebatnya Islam pada masa-masa kejayaanya, bahkan jauh sebelum itu ketika ada seorang yang menguasai kunci Baitul Maqdis di Palestina, maka pada Pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dapat mengambil alih kepemilikan Baitul Maqdis dan diserahkan ke Umat Islam. Cerita lain dari seorang perempuan yang pernah menjadi korban dari pelecehan seksual, lalu meminta tolong dengan Umar bin Khatab.

“Yaa Umaroo (Wahai Umar) tolonglah aku,” kata si Perempuan. Lalu Umar bin Khatab datang untuk menolong, Umar bin Khatab datang dengan penuh kedamaian tanpa membawa pedang atau menyatakan perang kepada musuh-musuh Umat Islam, mengapa Musuh Islam merasa takut? Tidak lain karena mereka tahu bahwa Islam adalah agama yang kuat. Allah dalam salah potongan firmanNya Surah An Anfal ayat 60 berfirman:


وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Wa a’iddụ lahum mastaṭa’tum ming quwwah dari ayat ini mengajarkan kita untuk mempersiapkan kekuatan. Dengan kekuatan itu kata Allah tur-hibụna bihī ‘aduwwallāhi wa ‘aduwwakum, akan menggetarkan musuh Allah dan juga musuhmu. Islam mengajarkan perlawanan, tetapi bukan perlawanan dengan penuh kekerasan dan keberutalan. Islam sesuai dengan namanya dari kata Salam, penuh dengan kedamaian.

Namun yang menjadi pertanyaan, dimanakan kita pada saat ini? Apakah kita berada dalam masa keemasan Islam? atau justru kita berada dalam keadaan Islam yang sangat lemah? Hati ini boleh berbangga karena ketika membaca koran tertulis bahwa Jamaah haji Indonesia menjadi jamaah haji terbesar di dunia. Betapa bangga hati kita ketika melihat berita di televisi, bahwa masjid-masjid besar penuh dengan jamaah acara tabligh akbar.

Di satu sisi, mungkin kita berada dalam masa Kejayaan Islam. Kita boleh bersyukur karena saat ini Khutbah Jumat belum di larang. Mungkin kita boleh beruntung, karena suara adzan masih berkumandang di masjid-masjid. Namun sejarah membentangkan kepada kita, saat seorang Mustofa Kemal Artaturk pernah melarang suara adzan berkumandang menggunakan mikrofon (Pengeras Suara) di Masjid-Masjid Turki, padahal Islam sudah menguasai Turki sejak lama.


Ketika Khotib menyaksikan sendiri betapa megahnya peninggalan Kerajaan Islam yang di bangun di puncak bukit seluas 32 hektar di Tanah Andalusia, Spanyol. Al-Hambra, Hambra berasal dari kata Akmar (Merah), karena memang bangunan megah itu di bangun dari bebatuan granit yang berwarna merah. Cahaya kuning kemerahan ketika sinar matahari memantulkan cahaya ke tembok-tembok Al-Hambra makin mempercantik bangunan ini. Ukiran berbahasa Arab dengan bangunan-bangunan khas Tanah Arab menjadi daya tarik tersendiri. Namun kini, bangunan megah peninggalan Umat Islam itu tinggal cerita, saut-saut suara adzan pun sudah tidak terdengar.

Begitupun Masjid Al Jami’ Mezquita, sebuah masjid peninggalan Islam yang berada di Cordoba. Masjid besar dengan gugusan 1000 tiang dan arsitektur khas Masjid Nabawi di Madina ini menjadi masjid terbesar di dunia pada zamannya. Namun kini, Mihrab imam sudah di pasang dengan patung-patung salib yang juga tidak kalah besarnya. Dulu masjid ini tempat Umat Muslim beribadah, tetapi saat ini jangankan untuk bersujud, menengadahkan kedua tangan saja sudah tidak diperbolehkan. Padahal Islam menguasai tanah Andalusia Spanyol 700 tahun lamanya.

Sebuah sabda Nabi yang berbunyi: Al-islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih: (Islam senantiasa unggul, dan ia tidak akan terungguli) memanglah benar, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa peristiwa-peristiwa menyakitkan itu pernah terjadi di negeri-negeri yang mencapai masa keemasan Islam. Benar adanya, bahwa Islam tidak akan pernah jatuh tapi adakah jaminan bahwa keluarga kita akan terus Islam? Adakah jaminan bahwa kota kita akan terus memikili orang-orang Muslim? Adakah jaminan bahwa masjid-masjid yang berdiri megah saat ini akan tetap tegak berdiri sebagai masjid? Nauzubillah mindzalik.

Khutbah ini kembali mengingatkan kita, marilah kita wariskan Islam kepada diri, kepada keluarga, anak, cucu, cicit, menantu, supaya jangan sampai apa yang terjadi di tanah Andalusia juga terjadi pada umat saat ini. Islam akan dihormati jika kita punya kekuatan. Kekuatan iman, kekuatan harta, dan kekuatan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Islam akan diremehkan jika kita lemah.

Jadi orang kaya, jadilah orang yang sekaya-kayanya, tetapi kalau sudah kaya jangan lupa bantu masjid, bantu fakir, bantu miskin, keluarkan zakat. Bagi yang berilmu, carilah ilmu dimanapun. Utlubul ilma walau bissin ( tuntut lah ilmu sampai ke Negeri Cina) meski hadist ini dhoif tapi boleh digunakan untuk fadhoil a’mal (berkaitan dengan keutamaan akhlak). Apakah salah menuntut ilmu di negeri orang? Tentu saja tidak.

Karena sejarah mencatat, Universitas Cordoba di Andalusia Spanyol adalah universitas kebanggaan Umat Islam yang pertama kali dibangun pada masa Abdurahman III. Banyak mahasiswa dari berbagai negara, termasuk mahasiswa Kristen Eropa menuntut ilmu di universitas itu. Sebanyak 27 sekolah swasta didirikan, gedung perpustakaan mencapai 70 buah, bahkan anak-anak miskin yang terlantar bisa bersekolah secara gratis di 80 sekolah yang disediakan pemerintah.

Universitas Cordoba melahirkan tokoh-tokoh hebat seperti para filsuf sekelas Ibnu Rusyd dan Imam Qurtubi. Bahkan kemajuan peradaban medis di Eropa juga tentu tidak lepas dari tangan dingin seorang Imam Azzahrawi yang merupakan ahli bedah dan kedokteran pada masa itu. Cordoba menjadi kota termegah pada masanya. Kejayaannya banyak menginspirasi penulis barat ataupun ahli sejarah sebagai cikal bakal kemajuan barat di masa sekarang. Benar adanya, bahwa kebenaran ilmu itu milik orang-orang beriman yang sempat hilang. Dimanapun tempat mencarinya, Umat Islam berhak untuk merebut nya kembali.

Kekuatan Islam yang sesungguhnya juga ditunjukan dalam sebuah kisah saat Nabi Muhammad membawa 10.000 pasukan saat memasuki Kota Madinah Al Munawaroh, dan sesampainya di Mekkah beliau bersihkan semua kesyirikan, tetapi tidak ada satu tombak pun yang melayang, dan juga tidak ada satu anak panah pun yang melukai siapa pun. Islam datang dengan penuh kedamaian. Maka pada saat itu turun Surah An- Nasr iżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-ḥ (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan). Wa ra`aitan-nāsa yadkhulụna fī dīnillāhi afwājā (Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah).

Orang-orang banyak memeluk Agama Islam, bahwa mereka yang masuk Islam bukan hanya satu atau dua orang, dalam surah ini di sebutkanafwājā (berbodong-bondong). Mereka masuk ke Agama Allah secara berbondong-bongong, tidak lain karena Islam menunjukan kekuatan dan juga penuh kedamaian. Semoga, Allah senantiasa memberikan kita kekuatan, kekuatan iman, kekuatan harta, dan kekuatan ilmu pengetahuan.